Ada seorang laki-laki yang menikahi perempuan tetangganya. Perempuan ini adalah istri keduanya setelah dia berpisah dari istri pertama. Punya anak dua.
Lama dia mencari kerja. Namun pekerjaan yang diharapkan tidak kunjung datang. Akhirnya sang istri yang kreatif bekerja dan menghasilkan uang. Kebutuhan sehari-hari cukup buat makan sekeluarga.
Sampai saat ini sang suami tetap tidak menemukan pekerjaan. Setiap ia bekerja pasti rugi bahkan ketika membuka usaha habis dengan modal-modalnya. Ia menjadi bingung. Gimana solusinya. Apa kata tetangga, pikirnya. Kok laki-laki tidak bekerja. Malah perempuan yang bekerja. Ia merasa harga dirinya terinjak-injak.
Dia kemudian mengadukan perihalnya kepada salah seorang kyai. Sang kyai hanya berkomentar satu kalimat: ah lagi-lagi kekhawatiran diri.
Yayasan Pondok Pesantren Islam Salafiyah adalah organisasi Nirlaba yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan Islam. Visinya adalah mewujudkan manusia untuk menjadi manusia yang sempurna (insan kamil). Misinya adalah mengajarkan kesederhanaan dalam hidup, menerima hidup, dan berkata "Ya" dengan hidup. Kedua, menyebarkan kasih sayang dengan sesama. Ketiga, mengajarkan berjuang dengan penuh keihklasan di jalan kemanusiaan.
Senin, 28 Maret 2011
Kekhawatiran II
Ada seorang suami mengadu kepada sang kyai. Ini kyai istri saya tidak nurut kemauan saya, ujar sang suami sambil melirik sang istri. Dia malah sibuk berpolitik. Bok, ya saya saja yang berpolitik. Itu kan kawasan laki-laki.
Sang kyai bertanya: apa benar pengakuan sang suami ibu? si istri mengangguk. Lalu sang kyai bertanya kepada si suami; apa salah jika seorang ibu berpolitik?
Si suami tidak terima pertanyaan sang kyai. Ia merasa tidak dibela oleh kyai. Pengennya dia mengadu untuk mencari dukungan sang kyai agar membelanya. Dan istri 'insaf' dan mau kembali menjadi ibu rumah tangga yang baik-baik menurut definisinya.
Begini, sang kyai menengahi, kita sebagai laki-laki jangan berpikir sepihak dari sudut pandang kita saja. Cobalah berpikir dari sudut pandang istrimu. Mungkin istrimu tidak ada kegiatan di rumah dan punya jiwa politik juga. Toh kamu berbeda partai dengan istrimu. Apakah kamu takut tersaingi dengan prestasi istrimu? Apakah prestasi istrimu jika melebihi kamu, harga dirimu merasa diinjak-injak?
Ah lagi-lagi kekhawatiran yang muncul.
Sang kyai bertanya: apa benar pengakuan sang suami ibu? si istri mengangguk. Lalu sang kyai bertanya kepada si suami; apa salah jika seorang ibu berpolitik?
Si suami tidak terima pertanyaan sang kyai. Ia merasa tidak dibela oleh kyai. Pengennya dia mengadu untuk mencari dukungan sang kyai agar membelanya. Dan istri 'insaf' dan mau kembali menjadi ibu rumah tangga yang baik-baik menurut definisinya.
Begini, sang kyai menengahi, kita sebagai laki-laki jangan berpikir sepihak dari sudut pandang kita saja. Cobalah berpikir dari sudut pandang istrimu. Mungkin istrimu tidak ada kegiatan di rumah dan punya jiwa politik juga. Toh kamu berbeda partai dengan istrimu. Apakah kamu takut tersaingi dengan prestasi istrimu? Apakah prestasi istrimu jika melebihi kamu, harga dirimu merasa diinjak-injak?
Ah lagi-lagi kekhawatiran yang muncul.
Langganan:
Postingan (Atom)