Gus Dur?
Gus Dur telah meninggal. Tubuhnya telah lelah setelah sekian lama menderita tapi tak dirasakannya. Maklum beliau tipe manusia yang tak pernah memikirkan dirinya. Pikirannya lebih banyak dicurahkan kepada bangsa yang kadangkala memusihinya. Begitulah nasib para utusan. Banyak orang menolak ide-idenya. Tapi setelah meninggal, justru banyak orang yang merasa kehilangan. Bukan kehilangan tubuh dhahir, tapi kehilangan pikiran-pikiran segar yang ada di tubuh dhahir yang memang banyak sisi kelemahannya.
Banyak orang mengatakan dia wali. Sebagian mengatakan intelektual yang sulit dijangkau pemikirannya. Ada orang yang mengatakan dia antek Yahudi karena pernah bekerja sama dengan mereka. Ada yang mengatakan ia zindik, yakni orang yang sudah lepas dari hukum syari’at. Ada pula orang yang mengatakan dia ngawur karena seenak hati kalau berbicara tanpa kenal rasa takut. Bahkan ketika dia sendirian menentang Soeharto. Mana yang benar? Saya kira tidak ada yang benar dalam hidup ini. Itu semua hanya sebuah tafsir atas realitas yang bernama Gus Dur. Memahami diri kita saja sulit, memahami orang lain lagi tentu banyak ketidaktepatan dan tidak ada yang mencakup di dalamnya. Semuanya hanyalah tafsir atas jari yang kita tunjukkan ke bulan. Lebih parah lagi, kalau kita berdebat tentang jari yang menunjuk kepada bulan itu. Bukan kepada sesuatu yang ditunjuk oleh jari.
Berbagai macam tafsir atas Gus Dur terjadi karena banyak orang yang tidak paham dan mau memahami Gus Dur. Kecendrungan sebuah tafsir, selalu dipalingkan kepada kepentingan diri yang bernama ego (kepuasan diri). Kalau ada seseorang yang sulit kita pahami, yang muncul kemudian adalah stigma. Stigma sendiri memang terkadang menyakitkan bagi orang yang tidak berkesadaran tinggi. Namun tidak bagi Gus Dur. Ia tetap berjalan dengan gagasannya yang tak terpahami bahkan tidak boleh untuk dipahami oleh sebagaian orang. Hingga akhir hayat, beliau tetap konsisten dengan pembelaannya terhadap kaum lemah tanpa melihat label-label agama atau apapun lah namanya. Karena nabi Isa sendiri dipancung oleh orang-orang yang mengaku beragama paling benar. Al-Hallaj juga dipancung oleh orang beragama. Siti Jenar juga demikian ceritanya.
Manusia bagi Gus Dur lebih penting dari lebel apapun bahkan lebel ‘agama’ sekalipun. Tentu hal ini menGusik banyak kaum beragama dan agamawan. Gagasannya dianggap membela orang di luar Islam. Banyak dari kalangan kyai sendiri menentangnya. Hanya karena beliau adalah cucu khadratus syeh Hasyim As’ari lah, para kyai tidak berani berkomentar lebih jauh. Kyai As’ad Situbondo pun memilih mufaroqoh (sebuah istilah dalam shalat dimana makmum memisahkan diri dari imam karena melihat imam batal atau si makmum sendiri ingin segera keluar dari shalat) dengan Gus Dur waktu Gus Dur menjabat ketua tanfidiyah di organisasi NU.
Ya memang Gus Dur dilahirkan di kalangan Nahdiyyin yang pemikirannya melampui kaum nahdiyyin pada umumya. Sejak lahir ia sudah NU. Ada cap NU didada beliau. Rasanya kalau beliau mau keluar dari NU kok seperti memasukkan gajah di lobang jarum. Ada kelakar dari kawan-kawan di depok waktu itu, ketika Gus Dur menjadi presiden, banyak yang mengaku bahwa dirinya adalah NU. Kita-kita ini justru mau keluar dari NU sudah sulit. Karena begitu lahir sudah dicap sebagai orang NU, ujar seorang kawan. Kami semua tertawa mendengar kelakar itu.
Karena pemikirannya yang melampui warganya sendiri itulah, Gus Dur mengatakan bahwa kalau orang-orang melihat NU melalui jendela dirinya, maka orang salah besar. Saya waktu membaca wawancara Gus Dur waktu itu tidak begitu mengerti ucapan Gus Dur. Akhirnya saya mengerti bahwa kebanyakan warga NU hanya mengamini saja gagasan-gagasan beliau karena menganggap bahwa Gus Dur adalah cucu pendiri NU. Walaupun tidak mengerti gagasannya, banyak warga NU percaya bahwa ucapan Gus Dur pasti ada maksud yang tidak diketahui oleh kebanyakan warga nahdiyyin. Gus Dur tetap saja berjalan sendirian tanpa teman. Ia hidup dalam kesepian ide-ide seperti kebanyakan para utusan tuhan yang kesepian. Kadang manusia tidak kuat menahan rasa kesepian. Sehingga manusia enggan untuk terus-menerus mencari kejernihan kebenaran yang kadangkala penuh dengan kesepian dan tidak diminati oleh orang kebanyakan.
Tapi itulah Gus Dur. Dengan segala keunikannya, dia berjalan terus tanpa peduli akan dicaci banyak orang. Dia juga tidak banyak terpengaruh ketika orang banyak memujinya. Memang kalau dipikir lebih sadar, tidak ada untungnya juga dipuji orang lain. Begitu pun sebaliknya, kita tidak akan rugi bila dicaci maki orang lain. Pujian dan cacian hanyalah laskar tuhan untuk memancing ego kita untuk keluar dari jalan kebenaran. Beliau terus-menerus menjalani hidup yang penuh dengan gelora dan tantangan.
Menjalani hidup demikian, membutuhkan keberanian. Tidak banyak orang mampu melakukan. Ada sebuah ungkapan bijak yang perlu kita semua renungkan: mutiara ada di dalam lautan. Untuk menemukan mutiara, seseorang harus menyelam. Di dalam lautan banyak sekali rahasia yang akan kita temukan. Namun bahaya juga bisa datang tak diduga-duga sebelumnya. Namun disitulah tempatnya segala rahasia. Kalau mau aman, hidup di daratan saja”.
Keamanan dan kenyamanan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang hanya mencari aman. Orang macam ini tidak akan pernah menemukan mutiara. Semoga kita berani menjalani hidup dan mampu berkata ‘Ya’ kepada dunia. Selamat jalan Gus. Selamat menikmati masa-masa pensiunmu.
Yayasan Pondok Pesantren Islam Salafiyah adalah organisasi Nirlaba yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan Islam. Visinya adalah mewujudkan manusia untuk menjadi manusia yang sempurna (insan kamil). Misinya adalah mengajarkan kesederhanaan dalam hidup, menerima hidup, dan berkata "Ya" dengan hidup. Kedua, menyebarkan kasih sayang dengan sesama. Ketiga, mengajarkan berjuang dengan penuh keihklasan di jalan kemanusiaan.
Selasa, 05 Januari 2010
Minggu, 08 November 2009
TIRAKAT = PENYATUAN DENGAN TUHAN
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang cukup untuk menjadi bahan perenungan. Pertanyaannya adalah kalau memang kehendak manusia (semua manusia) adalah ungkapan kehendak Allah, lalu kenapa untuk mencapai Allah, manusia perlu tirakat dan meninggalkan hal-hal yang berbau duniawi? Dengan kata lain, kenapa manusia harus banyak mengekang kehendak dan keinginannya untuk menyatu dengan Tuhan?
Tirakat merupakan laku yang harus dijalani oleh seseorang untuk tujuan yang beragam. Diantaranya dan ini yang paling banyak tujuan yang dicari oleh ahli tirakat adalah untuk mendapatkan kesaktian dan benda-benda keramat lainnya.
Tujuan tirakat yang paling utama yang terdapat dalam hampir semua agama adalah menyatu dengan tuhan-Nya. Dalam sejarah agama-agama (pandangan hidup seseorang), banyak cerita tentang tirakat dalam rangka penyatuan ini. Buddha dengan semedinya. Rasul Muhammad dengan gua Hiro-nya. Plato dengan perenungan-perenungan dan pengasingannya. Martin Heidegger (seorang filosof jerman) dengan pengasingannya di rumah terpencil. Dan sunan Kali Jogo dengan tongkat di pinggir sungai.
Tirakat mengambil pola bermacam-macam; ada yang berpuasa, semedi di gua-gua, tidak tidur di malam hari, mengurangi makan dan tidur, ada juga yang tidur dan tidak makan selama beberapa hari. Intinya semua pola itu mengarah kepada penyucian diri.
Penyucian diri secara sederhana bisa didefinisikan dengan penyucian dari kekotoran. Baik kekotoran itu mengambil bentuk kekotoran lahir (tubuh dengan makanan tidak halal dan tidak baik yang masuk) maupun kekotoran batin (pikiran yang punya niat dan keinginan yang bermacam-macam).
Makanan halal di dalam kitab suci Al-qur’an diberi penjelasan lagi berupa tayyib. Tayyib secara bahasa semantik punya arti baik. Kenapa harus diberi embel-embel baik? Bukankah makanan yang halal itu sudah barang tentu baik?
Ada sebuah kisah tentang makanan baik ini. Ada seseorang saudara menjadi pegawai bank di BRI. Kemudian dia didatangi oleh seseorang yang tadinya pergi ke kantornya untuk meminjam uang. Orang tersebut membawa parsel dan sejumlah hadiah juga termasuk uang di dalamnya. Saudara ini kemudian berpikir; “orang ini datang dengan hadiah yang bermacam-macam hanya demi mendapatkan rekomendasi untuk diberi pinjaman uang”.
Dia sendiri kebetulan menjadi kepala di Bank tersebut yang apabila seseorang mendapatkan rekomendasi maka akan lolos permintaan pinjamannya. Saudara itu kemudian menolak pemberian hadiah tersebut. Pikirnya; “kalau memang dia mau memberikan sesuatu kenapa tidak diberikan kepada orang miskin saja”. Dia kemudian teringat maksud dari al-Qur’an bahwa pemberian itu sebetulnya halal, namun tidak baik karena ada maksud dan tujuan di baliknya. Kalau dia menggunakan wewenangnya sebegai kepala sedangkan secara prosedur sebetulnya orang itu tidak bisa mendapatkan pinjaman, maka dia termasuk menyalahgunakan wewenang. Dan itu termasuk tindakan yang tidak bertanggung jawab, pikirnya. Dan hati nuraninya jelas menolak.
Itu menyangkut makanan, lalu bagaimana variabel yang menyangkut batin atau pikiran, dimana letak kotornya?
Kekotoran batin bisa diakibatkan oleh tindakan kita sendiri dalam keseharian kita. Pikiran ini bagaikan pita kaset yang selalu bergerak. Alat perekamnya adalah indra kita baik penglihatan, pendengaran maupun yang lain. Apa yang kita lihat, bagaikan potret yang langsung meng-capture obyek yang ada di luar diri kita. Semuanya capture atau hasil jebretan itu langsung masuk ke hardissk kita yang berupa sel-sel tubuh yang di dalam inti sel merupakan ruang kosong berisi semua hal yang kita simpan.
Kalau dalam kehidupan sehari-hari kita menyimpan rekaman yang tidak layak menurut moral kemanusiaan, maka rekaman itu berakibat buruk kepada diri kita. Kita akan merasa tegang, sering pusing, bahkan hidup pun sering terganggu. Tidur tidak enak. Hidup tidak tenang. Strees. Bahkan ada usaha untuk bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban. Itu semua tanda-tanda bahwa tanpa sadar kita telah mereka sesuatu yang tidak layak untuk direkam.
Ibadah semisal shalat, dikir dan wirid sebetulnya defrag (penataan ulang dan penghapusan file-file yang tidak perlu) bagi kita untuk mentralisir racun-racun rekaman yang masuk ke dalam tubuh kita. Wudhu juga defrag cepat (quick defrag) karena air mengandung bioelektrik yang mengandung energi (cahaya) yang bisa menghapus rekaman-rekaman pendek yang tidak layak dan yang tidak diterima oleh tubuh manusia. Sehingga penyucian diri bisa tercapai.
Namun kenapa untuk manunggal dengan tuhan, manusia harus terus menyucikan diri? Jawaban yang paling sederhana dan yang paling logis untuk dikemukakan adalah bahwa tuhan untuk menyucikan diri membuang sifat-sifat yang tidak sesuai dengan kesuciannya kepada manusia. Manusia merupakan makhluk yang paling siap untuk menerima semua kehendak tuhan (amanat tuhan).
Logikanya; semua sifat yang ada di dalam diri manusia adalah kepunyaan tuhan. Namun istilah mempunyai belum tentu menggunakan. Misalnya, saya mempunyai mobil belum tentu saya menggunakan mobil tersebut. Tuhan hanya menggunakan sifat-sifat yang sesuai dengan kesuciannya. Tuhan tidak membutuhkan kesenangan duniawi karena memang itu bertentangan dengan kesuciannya.
Pada akhirnya, yang menggunakan sifat kesenangan duniawi adalah manusia. Yang konon Tuhan mencaci manusia yang dicantumkan dalam al-Qur’an sebagai manusia bodoh yang sanggup menerima amanat yang tidak diterima oleh siapapun selain manusia. Maka sangat wajar kalau dunia ini dipenuhi dengan berbagai macam pernak-pernik kesenangan. Manusia tidak habis-habis idenya untuk menyenangkan dirinya.
Lain soalnya ketika manusia ingin menyatu dengan tuhan, maka otomatis harus meninggalkan dunia kesenangan manusia. Ketika tidur enak, malah disuruh sebaliknya yakni mengurangi tidur. Ketika kita makan enak, kita malah disuruh mengurangi makan. Malahan makan ikan pun harus dihindari. Agar kita betul-betul menjadi wakil Tuhan di Bumi. Karena Tuhan ingin menguji sifatnya melalui af’alnya.
Jawaban sederhana!
Tirakat merupakan laku yang harus dijalani oleh seseorang untuk tujuan yang beragam. Diantaranya dan ini yang paling banyak tujuan yang dicari oleh ahli tirakat adalah untuk mendapatkan kesaktian dan benda-benda keramat lainnya.
Tujuan tirakat yang paling utama yang terdapat dalam hampir semua agama adalah menyatu dengan tuhan-Nya. Dalam sejarah agama-agama (pandangan hidup seseorang), banyak cerita tentang tirakat dalam rangka penyatuan ini. Buddha dengan semedinya. Rasul Muhammad dengan gua Hiro-nya. Plato dengan perenungan-perenungan dan pengasingannya. Martin Heidegger (seorang filosof jerman) dengan pengasingannya di rumah terpencil. Dan sunan Kali Jogo dengan tongkat di pinggir sungai.
Tirakat mengambil pola bermacam-macam; ada yang berpuasa, semedi di gua-gua, tidak tidur di malam hari, mengurangi makan dan tidur, ada juga yang tidur dan tidak makan selama beberapa hari. Intinya semua pola itu mengarah kepada penyucian diri.
Penyucian diri secara sederhana bisa didefinisikan dengan penyucian dari kekotoran. Baik kekotoran itu mengambil bentuk kekotoran lahir (tubuh dengan makanan tidak halal dan tidak baik yang masuk) maupun kekotoran batin (pikiran yang punya niat dan keinginan yang bermacam-macam).
Makanan halal di dalam kitab suci Al-qur’an diberi penjelasan lagi berupa tayyib. Tayyib secara bahasa semantik punya arti baik. Kenapa harus diberi embel-embel baik? Bukankah makanan yang halal itu sudah barang tentu baik?
Ada sebuah kisah tentang makanan baik ini. Ada seseorang saudara menjadi pegawai bank di BRI. Kemudian dia didatangi oleh seseorang yang tadinya pergi ke kantornya untuk meminjam uang. Orang tersebut membawa parsel dan sejumlah hadiah juga termasuk uang di dalamnya. Saudara ini kemudian berpikir; “orang ini datang dengan hadiah yang bermacam-macam hanya demi mendapatkan rekomendasi untuk diberi pinjaman uang”.
Dia sendiri kebetulan menjadi kepala di Bank tersebut yang apabila seseorang mendapatkan rekomendasi maka akan lolos permintaan pinjamannya. Saudara itu kemudian menolak pemberian hadiah tersebut. Pikirnya; “kalau memang dia mau memberikan sesuatu kenapa tidak diberikan kepada orang miskin saja”. Dia kemudian teringat maksud dari al-Qur’an bahwa pemberian itu sebetulnya halal, namun tidak baik karena ada maksud dan tujuan di baliknya. Kalau dia menggunakan wewenangnya sebegai kepala sedangkan secara prosedur sebetulnya orang itu tidak bisa mendapatkan pinjaman, maka dia termasuk menyalahgunakan wewenang. Dan itu termasuk tindakan yang tidak bertanggung jawab, pikirnya. Dan hati nuraninya jelas menolak.
Itu menyangkut makanan, lalu bagaimana variabel yang menyangkut batin atau pikiran, dimana letak kotornya?
Kekotoran batin bisa diakibatkan oleh tindakan kita sendiri dalam keseharian kita. Pikiran ini bagaikan pita kaset yang selalu bergerak. Alat perekamnya adalah indra kita baik penglihatan, pendengaran maupun yang lain. Apa yang kita lihat, bagaikan potret yang langsung meng-capture obyek yang ada di luar diri kita. Semuanya capture atau hasil jebretan itu langsung masuk ke hardissk kita yang berupa sel-sel tubuh yang di dalam inti sel merupakan ruang kosong berisi semua hal yang kita simpan.
Kalau dalam kehidupan sehari-hari kita menyimpan rekaman yang tidak layak menurut moral kemanusiaan, maka rekaman itu berakibat buruk kepada diri kita. Kita akan merasa tegang, sering pusing, bahkan hidup pun sering terganggu. Tidur tidak enak. Hidup tidak tenang. Strees. Bahkan ada usaha untuk bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban. Itu semua tanda-tanda bahwa tanpa sadar kita telah mereka sesuatu yang tidak layak untuk direkam.
Ibadah semisal shalat, dikir dan wirid sebetulnya defrag (penataan ulang dan penghapusan file-file yang tidak perlu) bagi kita untuk mentralisir racun-racun rekaman yang masuk ke dalam tubuh kita. Wudhu juga defrag cepat (quick defrag) karena air mengandung bioelektrik yang mengandung energi (cahaya) yang bisa menghapus rekaman-rekaman pendek yang tidak layak dan yang tidak diterima oleh tubuh manusia. Sehingga penyucian diri bisa tercapai.
Namun kenapa untuk manunggal dengan tuhan, manusia harus terus menyucikan diri? Jawaban yang paling sederhana dan yang paling logis untuk dikemukakan adalah bahwa tuhan untuk menyucikan diri membuang sifat-sifat yang tidak sesuai dengan kesuciannya kepada manusia. Manusia merupakan makhluk yang paling siap untuk menerima semua kehendak tuhan (amanat tuhan).
Logikanya; semua sifat yang ada di dalam diri manusia adalah kepunyaan tuhan. Namun istilah mempunyai belum tentu menggunakan. Misalnya, saya mempunyai mobil belum tentu saya menggunakan mobil tersebut. Tuhan hanya menggunakan sifat-sifat yang sesuai dengan kesuciannya. Tuhan tidak membutuhkan kesenangan duniawi karena memang itu bertentangan dengan kesuciannya.
Pada akhirnya, yang menggunakan sifat kesenangan duniawi adalah manusia. Yang konon Tuhan mencaci manusia yang dicantumkan dalam al-Qur’an sebagai manusia bodoh yang sanggup menerima amanat yang tidak diterima oleh siapapun selain manusia. Maka sangat wajar kalau dunia ini dipenuhi dengan berbagai macam pernak-pernik kesenangan. Manusia tidak habis-habis idenya untuk menyenangkan dirinya.
Lain soalnya ketika manusia ingin menyatu dengan tuhan, maka otomatis harus meninggalkan dunia kesenangan manusia. Ketika tidur enak, malah disuruh sebaliknya yakni mengurangi tidur. Ketika kita makan enak, kita malah disuruh mengurangi makan. Malahan makan ikan pun harus dihindari. Agar kita betul-betul menjadi wakil Tuhan di Bumi. Karena Tuhan ingin menguji sifatnya melalui af’alnya.
Jawaban sederhana!
Langganan:
Postingan (Atom)