Ada sebuah pertanyaan sederhana yang cukup untuk menjadi bahan perenungan. Pertanyaannya adalah kalau memang kehendak manusia (semua manusia) adalah ungkapan kehendak Allah, lalu kenapa untuk mencapai Allah, manusia perlu tirakat dan meninggalkan hal-hal yang berbau duniawi? Dengan kata lain, kenapa manusia harus banyak mengekang kehendak dan keinginannya untuk menyatu dengan Tuhan?
Tirakat merupakan laku yang harus dijalani oleh seseorang untuk tujuan yang beragam. Diantaranya dan ini yang paling banyak tujuan yang dicari oleh ahli tirakat adalah untuk mendapatkan kesaktian dan benda-benda keramat lainnya.
Tujuan tirakat yang paling utama yang terdapat dalam hampir semua agama adalah menyatu dengan tuhan-Nya. Dalam sejarah agama-agama (pandangan hidup seseorang), banyak cerita tentang tirakat dalam rangka penyatuan ini. Buddha dengan semedinya. Rasul Muhammad dengan gua Hiro-nya. Plato dengan perenungan-perenungan dan pengasingannya. Martin Heidegger (seorang filosof jerman) dengan pengasingannya di rumah terpencil. Dan sunan Kali Jogo dengan tongkat di pinggir sungai.
Tirakat mengambil pola bermacam-macam; ada yang berpuasa, semedi di gua-gua, tidak tidur di malam hari, mengurangi makan dan tidur, ada juga yang tidur dan tidak makan selama beberapa hari. Intinya semua pola itu mengarah kepada penyucian diri.
Penyucian diri secara sederhana bisa didefinisikan dengan penyucian dari kekotoran. Baik kekotoran itu mengambil bentuk kekotoran lahir (tubuh dengan makanan tidak halal dan tidak baik yang masuk) maupun kekotoran batin (pikiran yang punya niat dan keinginan yang bermacam-macam).
Makanan halal di dalam kitab suci Al-qur’an diberi penjelasan lagi berupa tayyib. Tayyib secara bahasa semantik punya arti baik. Kenapa harus diberi embel-embel baik? Bukankah makanan yang halal itu sudah barang tentu baik?
Ada sebuah kisah tentang makanan baik ini. Ada seseorang saudara menjadi pegawai bank di BRI. Kemudian dia didatangi oleh seseorang yang tadinya pergi ke kantornya untuk meminjam uang. Orang tersebut membawa parsel dan sejumlah hadiah juga termasuk uang di dalamnya. Saudara ini kemudian berpikir; “orang ini datang dengan hadiah yang bermacam-macam hanya demi mendapatkan rekomendasi untuk diberi pinjaman uang”.
Dia sendiri kebetulan menjadi kepala di Bank tersebut yang apabila seseorang mendapatkan rekomendasi maka akan lolos permintaan pinjamannya. Saudara itu kemudian menolak pemberian hadiah tersebut. Pikirnya; “kalau memang dia mau memberikan sesuatu kenapa tidak diberikan kepada orang miskin saja”. Dia kemudian teringat maksud dari al-Qur’an bahwa pemberian itu sebetulnya halal, namun tidak baik karena ada maksud dan tujuan di baliknya. Kalau dia menggunakan wewenangnya sebegai kepala sedangkan secara prosedur sebetulnya orang itu tidak bisa mendapatkan pinjaman, maka dia termasuk menyalahgunakan wewenang. Dan itu termasuk tindakan yang tidak bertanggung jawab, pikirnya. Dan hati nuraninya jelas menolak.
Itu menyangkut makanan, lalu bagaimana variabel yang menyangkut batin atau pikiran, dimana letak kotornya?
Kekotoran batin bisa diakibatkan oleh tindakan kita sendiri dalam keseharian kita. Pikiran ini bagaikan pita kaset yang selalu bergerak. Alat perekamnya adalah indra kita baik penglihatan, pendengaran maupun yang lain. Apa yang kita lihat, bagaikan potret yang langsung meng-capture obyek yang ada di luar diri kita. Semuanya capture atau hasil jebretan itu langsung masuk ke hardissk kita yang berupa sel-sel tubuh yang di dalam inti sel merupakan ruang kosong berisi semua hal yang kita simpan.
Kalau dalam kehidupan sehari-hari kita menyimpan rekaman yang tidak layak menurut moral kemanusiaan, maka rekaman itu berakibat buruk kepada diri kita. Kita akan merasa tegang, sering pusing, bahkan hidup pun sering terganggu. Tidur tidak enak. Hidup tidak tenang. Strees. Bahkan ada usaha untuk bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban. Itu semua tanda-tanda bahwa tanpa sadar kita telah mereka sesuatu yang tidak layak untuk direkam.
Ibadah semisal shalat, dikir dan wirid sebetulnya defrag (penataan ulang dan penghapusan file-file yang tidak perlu) bagi kita untuk mentralisir racun-racun rekaman yang masuk ke dalam tubuh kita. Wudhu juga defrag cepat (quick defrag) karena air mengandung bioelektrik yang mengandung energi (cahaya) yang bisa menghapus rekaman-rekaman pendek yang tidak layak dan yang tidak diterima oleh tubuh manusia. Sehingga penyucian diri bisa tercapai.
Namun kenapa untuk manunggal dengan tuhan, manusia harus terus menyucikan diri? Jawaban yang paling sederhana dan yang paling logis untuk dikemukakan adalah bahwa tuhan untuk menyucikan diri membuang sifat-sifat yang tidak sesuai dengan kesuciannya kepada manusia. Manusia merupakan makhluk yang paling siap untuk menerima semua kehendak tuhan (amanat tuhan).
Logikanya; semua sifat yang ada di dalam diri manusia adalah kepunyaan tuhan. Namun istilah mempunyai belum tentu menggunakan. Misalnya, saya mempunyai mobil belum tentu saya menggunakan mobil tersebut. Tuhan hanya menggunakan sifat-sifat yang sesuai dengan kesuciannya. Tuhan tidak membutuhkan kesenangan duniawi karena memang itu bertentangan dengan kesuciannya.
Pada akhirnya, yang menggunakan sifat kesenangan duniawi adalah manusia. Yang konon Tuhan mencaci manusia yang dicantumkan dalam al-Qur’an sebagai manusia bodoh yang sanggup menerima amanat yang tidak diterima oleh siapapun selain manusia. Maka sangat wajar kalau dunia ini dipenuhi dengan berbagai macam pernak-pernik kesenangan. Manusia tidak habis-habis idenya untuk menyenangkan dirinya.
Lain soalnya ketika manusia ingin menyatu dengan tuhan, maka otomatis harus meninggalkan dunia kesenangan manusia. Ketika tidur enak, malah disuruh sebaliknya yakni mengurangi tidur. Ketika kita makan enak, kita malah disuruh mengurangi makan. Malahan makan ikan pun harus dihindari. Agar kita betul-betul menjadi wakil Tuhan di Bumi. Karena Tuhan ingin menguji sifatnya melalui af’alnya.
Jawaban sederhana!
Yayasan Pondok Pesantren Islam Salafiyah adalah organisasi Nirlaba yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan Islam. Visinya adalah mewujudkan manusia untuk menjadi manusia yang sempurna (insan kamil). Misinya adalah mengajarkan kesederhanaan dalam hidup, menerima hidup, dan berkata "Ya" dengan hidup. Kedua, menyebarkan kasih sayang dengan sesama. Ketiga, mengajarkan berjuang dengan penuh keihklasan di jalan kemanusiaan.
Minggu, 08 November 2009
Senin, 12 Oktober 2009
ASWAJA
Kemaren, teman-teman PMII mengundang saya untuk berbicara tentang ASWAJA, yang merupakan kependekan dari Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Pembicaraan tentang ASWAJA merupakan suatu hal yang harus dikemukakan di depan kader-kader PMII. Sebab menurut mereka ASWAJA merupakan tolak ukur sejati bagi kader untuk menjadi kader PMII.
Namun apa sebetulnya ASWAJA? Kenapa perdebatan tentang ASWAJA muncul? Lalu apa yang menjadi cikal bakal kemunculan ASWAJA itu sendiri?
Sebetulnya munculnya perdebatan ASWAJA itu diawali dari hadist nabi yang menyatakan bahwa umat islam di akhir jaman akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Dari 73 golongan itu yang selamat hanya satu, yakni ahlus sunnah wal jamaah.
Di waktu itu shahabat bertanya; siapa gerangan yang dimaksud dengan ahlus sunnah wal jamaah itu?
Nabi kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ahlus sunnah wal jamaah itu adalah orang-orang yang mengikuti beliau dan sahabat-sahabat nabi.
Janji bahwa yang selamat hanya ahlus sunnah wal jamaah inilah yang kemudian timbul saling klaim bahwa golongan dirinyalah yang paling pantas disebut sebagai golongan ahlus sunnah wal jamaah. Di kemudian hari, klaim ahlus sunnah wal jamaah dialamatkan kepada kelompok yang disebut dengan sunni (orang-orang yang mengikuti sunnah nabi). Tentu pengalamatan ini dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku sunni.
Kelompok sunni ini dalam realita sehari-hari sering dipertentangkan oleh pengikut sunni dengan kelompok yang mengikuti sayyidina ali, yakni si'i (syiah). Hal ini sangat kentara bila kita melihat kenyataan yang terjadi di Irak dan Iran. Kalau di Indonesia, pertentangan ini tidak sampai menimbulkan konflik horizontal seperti yang terjadi di Irak dan Iran.
Kalau kita kaji, konflik horizontal itu merupakan konflik yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan persoalan agama. Apa yang terjadi di Irak dan Iran menyiratkan sebuah konflik politik. Yang muncul di televisi-televisi menunjukkan petanda akan hal itu. Yang menjadi perebutan mereka adalah wilayah.
Mungkin, hal ini juga akibat masa lalu atau dosa sejarah. Yang menjadi penyebab konflik munculnya golongan-golongan dalam keagamaan bukan persoalan perbedaan paham keagamaan tapi perebutan kekuasaan atau akses kehidupan.
Dalam sejarahnya, munculnya demarkasi antara golongan sunni dan golongan syi'ah dipicu oleh persoalan kepemimpinan. Ketika nabi meninggal, sayyidina umar memunculkan gagasan bahwa kepemimpinan umat muslim harus tetap berlanjut jangan sampai terjadi kekosongan kepemimpinan.
Setelah urun rembuk dengan berbagai pertimbangan akhirnya abu bakarlah yang terpilih menjadi khalifah Nabi. Waktu itu, menurut Thabatabai (salah seorang ulama syiah yang kesohor sebagai ahli tafsir), Ali masih dalam suasana duka dan masih mengurus penguburan nabi. Ternyata di belakang sudah ada suksesi kepemimpinan. Otomatis Ali tidak dilibatkan dalam soal kepemimpinan ini.
Orang-orang yang simpati kepada Ali merasa sakit hati dengan peristiwa ini. Karena menurut pengakuan mereka, bahwa nabi sebetulnya sudah menunjuk bahwa pengganti dirinya adalah Ali. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan sejarah bahwa di suatu saat, di bukit yang bernama Ghadirhum, nabi menyatakan bahwa yang akan mengganti saya adalah Ali. Dan ini diungkapkan di depan banyak orang.
Akhir cerita, polarisasi pertama kali dalam islam ini memunculkan konflik politik dan keagamaan yang berkepanjangan dalam dunia Islam. Sehingga persoalan ini merembet kepada persoalan ahlus sunnah wal jamaah.
Sekian dulu
Namun apa sebetulnya ASWAJA? Kenapa perdebatan tentang ASWAJA muncul? Lalu apa yang menjadi cikal bakal kemunculan ASWAJA itu sendiri?
Sebetulnya munculnya perdebatan ASWAJA itu diawali dari hadist nabi yang menyatakan bahwa umat islam di akhir jaman akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Dari 73 golongan itu yang selamat hanya satu, yakni ahlus sunnah wal jamaah.
Di waktu itu shahabat bertanya; siapa gerangan yang dimaksud dengan ahlus sunnah wal jamaah itu?
Nabi kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ahlus sunnah wal jamaah itu adalah orang-orang yang mengikuti beliau dan sahabat-sahabat nabi.
Janji bahwa yang selamat hanya ahlus sunnah wal jamaah inilah yang kemudian timbul saling klaim bahwa golongan dirinyalah yang paling pantas disebut sebagai golongan ahlus sunnah wal jamaah. Di kemudian hari, klaim ahlus sunnah wal jamaah dialamatkan kepada kelompok yang disebut dengan sunni (orang-orang yang mengikuti sunnah nabi). Tentu pengalamatan ini dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku sunni.
Kelompok sunni ini dalam realita sehari-hari sering dipertentangkan oleh pengikut sunni dengan kelompok yang mengikuti sayyidina ali, yakni si'i (syiah). Hal ini sangat kentara bila kita melihat kenyataan yang terjadi di Irak dan Iran. Kalau di Indonesia, pertentangan ini tidak sampai menimbulkan konflik horizontal seperti yang terjadi di Irak dan Iran.
Kalau kita kaji, konflik horizontal itu merupakan konflik yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan persoalan agama. Apa yang terjadi di Irak dan Iran menyiratkan sebuah konflik politik. Yang muncul di televisi-televisi menunjukkan petanda akan hal itu. Yang menjadi perebutan mereka adalah wilayah.
Mungkin, hal ini juga akibat masa lalu atau dosa sejarah. Yang menjadi penyebab konflik munculnya golongan-golongan dalam keagamaan bukan persoalan perbedaan paham keagamaan tapi perebutan kekuasaan atau akses kehidupan.
Dalam sejarahnya, munculnya demarkasi antara golongan sunni dan golongan syi'ah dipicu oleh persoalan kepemimpinan. Ketika nabi meninggal, sayyidina umar memunculkan gagasan bahwa kepemimpinan umat muslim harus tetap berlanjut jangan sampai terjadi kekosongan kepemimpinan.
Setelah urun rembuk dengan berbagai pertimbangan akhirnya abu bakarlah yang terpilih menjadi khalifah Nabi. Waktu itu, menurut Thabatabai (salah seorang ulama syiah yang kesohor sebagai ahli tafsir), Ali masih dalam suasana duka dan masih mengurus penguburan nabi. Ternyata di belakang sudah ada suksesi kepemimpinan. Otomatis Ali tidak dilibatkan dalam soal kepemimpinan ini.
Orang-orang yang simpati kepada Ali merasa sakit hati dengan peristiwa ini. Karena menurut pengakuan mereka, bahwa nabi sebetulnya sudah menunjuk bahwa pengganti dirinya adalah Ali. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan sejarah bahwa di suatu saat, di bukit yang bernama Ghadirhum, nabi menyatakan bahwa yang akan mengganti saya adalah Ali. Dan ini diungkapkan di depan banyak orang.
Akhir cerita, polarisasi pertama kali dalam islam ini memunculkan konflik politik dan keagamaan yang berkepanjangan dalam dunia Islam. Sehingga persoalan ini merembet kepada persoalan ahlus sunnah wal jamaah.
Sekian dulu
Langganan:
Postingan (Atom)