Oleh
Muhammad Holid, M.Hum
Suatu ketika Kyai Kholil Bangkalan pernah diundang orang untuk menghadiri acara sunatan. Ketika diundang Kyai Kholil langsung menjawab “ya”. Maklum seorang Kyai sekaliber beliau selalu melihat ke dalam hatinya. Kalau hatinya mengatakan iya’, maka ia akan melakukannya.
Besoknya ketika mau berangkat sang Kyai berpikir, “aku kemarin menjawab iya, tapi aku tidak tahu rumah si punya hajat. Tapi dengan keteguhan hati bahwa beliau akan menemukan rumah si empu hajat, beliau tetap berangkat.
Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan seorang petani. Sebutlah Sidin namanya. Sidin ini petani yang rajin dan selalu tekun melakoni sawahnya walaupun sawah yang dimiliki tidak banyak. Ketika bertemu Sidin, Kyai Kholil bertanya tentang rumah si fulan yang punya hajat menyunatkan putranya. Si Sidin menjawab bahwa rumah empu hajat berada di sebrang jalan berikutnya tidak jauh dari tempat bertemunya Kyai dengan petani itu.
Sang Kyai kemudian bertanya: “Din kenapa engkau tidak ikut juga menghadiri acara itu?”. Sang Sidin menjawab bahwa dirinya tidak diundang. Sang Kyai kemudian menyuruh Sidin untuk mandi untuk diajak ikut serta sang Kyai dalam acara kondangan.
Awalnya si Sidin menolak karena merasa tidak diundang. Sang Kyai memaksa dan menyebutkan bahwa dirinya adalah Kyai Kholil. Begitu mendengar bahwa di depannya adalah Kyai kharismatik di bangkalan, Sidin cepat-cepat beranjak dan mandi. Kyai kemudian berangkat dan berkata: “Aku akan menunggumu di tempat hajatan”.
Begitu sang Kyai tiba, banyak Kyai-Kyai lain telah lama menunggu. Mereka belum memulai acara karena sang Kyai kharismatik belum datang. Akhirnya Kyai dipersilahkan duduk. Dan mereka memohon kepada sang Kyai untuk segera memulai acara karena undangan sudah sejak lama menunggu beliau.
Para Kyai pada heran mimpi apa semalam si punya hajat ini kok Kyai Kholil mau datang ke acaranya. Sebab para Kyai-Kyai desa lainnya ketika mengundang Kyai Kholil, Kyai Kholil jarang datang.
Yang lebih mengherankan lagi adalah Kyai Kholil tidak segera memulai acara itu. Ketika dipersilahkan memulai acara, sang Kyai menjawab: “tunggulah guru saya”. Lebih heranlah para undangan yang hadir. Sebab yang datang ke undangan ini bukan saja Kyai Kholil, melainkan guru Kyai Kholil juga akan datang.
Setelah lama menunggu akhirnya si Sidin datang. Kyai Kholil kemudian memperbaiki duduknya demi menghormat si Sidin. Si Sidin kemudian langsung duduk di samping Kyai Kholil. Semua yang hadir kaget melihat Sidin langsung duduk di samping Kyai Kholil dan lebih mengherankan lagi setelah mendengar perkataan Kyai Kholil bahwa Sidin itulah yang ditunggunya. Sebab dengan adanya Sidin itu, ia bisa menemukan tempat yang dituju. Padahal Sidin dipandang sebagai orang rendah yang diundang pun sudah tidak layak.
Kyai Kholil sebetulnya ingin memberikan pelajaran bagi yang hadir bahwa kita tidak boleh lupa dengan perantara. Perantara ini penting dalam proses perjalanan seseorang. Apalagi seseorang itu dalam proses mencari ilmu. Apapun pangkat perantara, kita tidak boleh lupa. Karena perantara inilah yang bisa menjadikan kita sampai kepada tempat tujuan.
Kita harus merenung kembali melalui siapa kita menemukan guru sejati kita. Dengan perantara siapa kita menemukan jati diri kita. Dengan perantara siapa pula kita mengenal tuhan kita. Itulah semua perantara yang tidak boleh tidak harus kita hormati. Inilah tata krama dalam proses pencarian jati diri.
Semoga bermamfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
TEXT