Minggu, 16 Januari 2011

Indonesia dari sisi yang lain

"Semua terbutakan oleh keinginan. Asap disebabkan oleh api. Cermin oleh debu. Itu yang membutakan semuanya". Itulah ungkapan yang saya petik dari film yang dibintangi Mel Gibson dengan judul The Year Of Living Dangerously. Sebuah film yang menceritakan pergolakan revolusi di Jakarta pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Film itu mengisahkan seorang wartawan Australia yang berusaha dalam kariernya untuk bisa meliput berita yang terjadi di Indonesia. Wartawan yang diperankan oleh Mel Gibson itu bernama Joe. Di Indonesia, dia telah ditunggu oleh wartawan berasal dari Australia juga, yang telah lama menantinya. Dia bernama Billy. Orangnya kerdil. Ayahnya cina dan ibunya Australia. Jadi Billy merupakan peranakan.

Setiba di Indonesia Joe ini diajak Billy untuk menemui beberapa tokoh penting. Karena Billy dikenal sebagai orang yang bisa mengakses ke semua tokoh penting di Jakarta. Diantara tokoh penting yang diperkenalkan Billy kepada Joe adalah Aidit, Soebandrio dan seorang wartawan cantik asal Inggris yang menjadi penghubung bagi informasi-informasi rahasia. Blly dikenal sebagai wartawan yang peduli terhadap bangsa Indonesia. Dia sering memberikan uang kepada penduduk. Ada sebuah keluarga yang sering diberi uang oleh Billy. Sampai anak keluarga itu sakit, Billy memberikan uang kepada ibunya untuk berobat ke dokter.

Kebiasaan Billy ini membuat foto dan mengarsipkan dengan rapi semua hal yang ditemuinya. Potret yang paling banyak dia foto adalah wajah. Semua wajah yang dianggapnya mengandung pandangan sebuah harapan untuk perbaikan, dia potret. Suatu saat dia berjalan menelusuri kampung, dan anak dari sebuah keluarga yang sering dia beri uang meninggal. Akhirnya Billy pun pergi ke sebuah hotel dimana di situ akan dihadiri oleh Soekarno dengan memasang sepanduk yang bertuliskan “ Soekarno berilah makan rakyatmu”. Sebelum sepanduk itu dilihat oleh Soekarno, Billy sudah dijatuhkan dari atas hotel itu oleh aparat militer rahasia. Akhirnya Billy terjatuh dan mati. Mungkin itulah jawaban dari pertanyaannya ketika melihat keluarga yang disayanginya meninggal “ apa yang harus kita lakukan”, batin Billy. Tentu keluhan apa yang akan kita lakukan, adalah melakukan untuk membuat perubahan. Dan perubahan bisa dialkukan dari mana saja. Karena Billy sering melihat penduduk yang kelaparan sampai memakan beras mentah yang baru dibagikan ke penduduk dimana penduduk saling berebut di situ.

Sungguh film yang menarik. Dan film itu membuat aku berpikir ulang tentang Soekarno yang selama ini Soekarno menjadi idolaku. Tapi sokearno juga manusia yang punya sisi kelemahan. Seokarno ingin membangun harga diri bangsa. Walaupun banyak orang Indonesia kelaparan, tapi kelaparan yang terhormat. Demi sebuah ego. Ego bisa mengalahkan semuanya. Banyak orang yang rela menderita demi mempertahankan sebuah ego. Dan ego ini timbul dari sebuah keinginan. Karena seperti yang dikatakan Billy ketika memperlihatkan wayang kulit kepada Joe, bahwa kita semua telah terbutakan oleh keinginan.

Film ini juga banyak dibumbuhi oleh kondisi Indonesia yang dipenuhi dengan banyak perempuan pelacur. Mereka jadi pelacur demi mendapatkan uang yang sedikit untuk bertahan hidup. Hidup adalah perjuangan. Demi untuk hidup itu sendiri. Joe sendiri orang yang kurang tertarik dengan pelacur ini. Sebagaimana halnya dengan Billy. Berbeda halnya dengan teman-teman wartwan yang lain. Untuk melampiaskan hasratnya, mereka menggunakan pelacur yang banyak ditemui di bawah kolong jembatan. Barangkali dari sinilah sejarah pelacur di bawah kolong jembatan dimulai. Sampai saat ini, banyak dijumpai pelacur di bawah kolong jembatan. Demi melayani pelampiasan hasrat yang memang tiada matinya.

Joe sendiri lebih tertarik dengan perempuan Inggris yang memang dalam film itu digambarkan sebagai perempuan yang penuh dengan gairah yang normal bukan gairah yang dipaksakan karena uang. Itulah pilihan-pilihan. Karena tidak memilih pun adalah sebuah pilihan.

Namun Joe sendiri punya keinginan besar untuk membuat perubahan. Dia melanggar apa yang dicita-citakan oleh Billy. Billy kecewa terhadap Joe. Kenapa Joe menjadi terlibat sangat politis. Keinginan Joe adalah membuat perubahan dari segi politik yang memang tidak boleh dicampuri oleh seorang jurnalis.

Namun dengan kondisi yang tidak menentu, yang ditemui oleh Joe hanyalah pukulan dengan senjata yang telah melukai matanya. Di suatu tempat terpencil dia dirawat. Esoknya dia dikunjungi oleh temannya yang menjadi asisten di kantornya. Dia adalah anggota PKI. Saat itu PKI sudah kalah dipentas politik. Dia bertanya kepada Joe; apakah aku orang bodoh? Tidak. Jawab Joe. Lalu kenapa aku tidak bisa hidup lebih baik yang bisa dicapai oleh orang bodoh yang ada di negrimu. Joe tidak bisa menjawab. Akhirnya yang bertanya itu menimpali: ternyata Barat pun tidak punya jawaban atas penderitaan yang aku alami di Indonesia. Kenapa kita harus saling membunuh karena hanya kita ingin punya kehidupan yang lebih baik. Itulah dunia. Semua merebut untuk meraih kehidupan yang lebih baik menurut kita. Tidak lebih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TEXT