Ada seseorang anak kecil berumur tujuh tahun yang bertanya kepada ayahnya; Ayah, Allah itu siapa sih yah? Seringkali saya mendengar ibu guru bercerita Allah, tapi kok saya tidak pernah diberitahukan seperti siapa Allah itu sih, tanya sang anak lebih lanjut. Sang ayah bingung menjawabnya. Bagaimana ia menjelaskan tentang Allah kepada seorang anak kecil yang pikirannya mulai menanyakan sesuatu yang menuntut jawaban yang kongrit. Sedangkan menurut sang ayah, Allah adalah sebuah konsep yang abstrak. Dan pertanyaan sang anak bisa dimaklumi. Secara psikologis, anak yang berumur tujuh tahun sampai lima belas tahun dalam perkembangan kerohaniannya, mengartikan konsep-konsep yang ada dan dijumpainya, seringkali dikaitkan dengan sesuatu yang kongkrit.
Dengan pikiran yang serba canggung dan dalam kebingungan sang ayah dalam hal menjelaskan Allah, akhirnya sang ayah menjawab bahwa Allah itu adalah tuhan kita. Allah itu adalah zat yang menghidupi kita. Yang memberikan kita rizki. Dan masih banyak jawaban sang ayah yang lainnya, yang masih tidak dimengerti oleh sang anak.
Jawaban sang ayah ternyata tidak memuaskan logika si anak. Jawaban sang ayah bahwa Allah itu adalah tuhan, ditimpali oleh sang anak. Lalu siapa tuhan itu? Pertanyaan ini semakin membingungkan sang ayah. Akhirnya sang ayah mengakhiri percakapan itu dengan sebuah jawaban diplomatis. Nak! kamu akan mengerti sendiri ketika kamu tiba waktunya untuk mengerti.
Dari dialog ini kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa cerita-cerita tentang tuhan yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah, di institusi-institusi agama seringkali tidak memuaskan logika kita. Bahkan seorang anak kecil pun tidak puas dengan jawaban bahwa Allah adalah tuhan kita. Lalu bagaimana kita akan menerangkan sejarah tuhan dengan ringkasan yang cukup untuk sebuah pengantar akan pemahaman akan tuhan lebih mendalam. Dapatkah nantinya penjelasan ini cukup logis bagi kita semua?
Dalam sejarah, banyak pertanyaan ini dilontarkan. Dalam semua agama, perdebatan tentang siapakah si Dia yang telah menciptakan alam dan seisinya ini masih menyisakan sebuah misteri. Perbincangan menyangkut tuhan pun dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena akan menyisakan sebuah pertentangan yang salah-salah bisa mengakibatkan pertumpahan darah. Padahal tuhan tidak perlu dibela. Karena tuhan sudah kuasa untuk membela dirinya sendiri.
Padahal dikatakan dalam sebuah hadis Rasul Muhammad: Awwaluddin Makrifatullah. Pertama-tama yang harus diketahui oleh orang yang beragama itu adalah mengenal Allah. Sebelum kita mengenal yang lain, hadis rasul ini cukup jelas menegaskan bahwa kita lebih dahulu perlu mengenal Allah dari pada mengenal yang lainnya. Bagaimana kita akan menyembahnya kalau kita tidak mengenalnya. Lalu bagaimana semestinya kita mengenal Allah?
Di dalam buku Thaoisme of Islam, Murata mengatakan bahwa semua agama sepakat bahwa Allah pada dirinya tidak ada yang mengetahui bahkan para Rasul pun tidak ada yang mengetahui. Allah hanya bisa diketahui pada sesuatu yang lain, yakni ciptaannya. Inilah kemudian alasan Rasul Muhammad pernah menitahkan kepada kita semua untuk berpikir tentang diri kita sendiri. Jangan memikirkan tuhan. Karena dengan berpikir tentang diri kita sendiri pada akhirnya kita akan mengenal Tuhan. Lalu apa yang dikatakan oleh al-Qur’an sendiri tentang Allah sebagai firman tuhan yang didokumentasikan oleh khalifah Usman yang kemudian dikenal dengan ros utsmani?
Di dalam surat al-Ihklas, Al-qur’an menegaskan bahwa Allah itu adalah ahad, kesatuan. Ada alasan-alasan yang cukup logis arti kesatuan ini dipilih. Pertama, kalau kata ahad ini diterjemahkan dengan arti satu atau tunggal, bagaimana Allah akan mengawasi seluruh manusia. Sedangkan jumlah manusia sendiri banyak. Makhluk selain manusia juga banyak. Dengan alasan ini kemudian makna kesatuan dipilih. Artinya seluruh makhluk yang ada, tampak maupun tidak tampak, berada di dalam kesatuan Allah, united of Allah.
Hal ini kemudian bisa dipahami kalau tidak ada sesuatupun berada di luar Allah. Karena tidak ada apapun yang berada di luar Allah, maka tidak ada apapun yang berada di luar kendali dan kuasanya. Inilah kemudian al-qur’an lebih lanjut mengatakan bahwa dimanakah kamu menghadap, maka disitulah kamu menghadapkan dirimu kepada Allah. Fa ainama tuwellu, fa tsamma wajhullah.
Lalu apa hubungannya dengan ucapan rasul bahwa kita cukup mengenali diri kita sendiri. pertama manusia itu adalah makhluk yang paling sempurna. Orang jawa mengatakan bahwa manusia ini adalah jagad raya kecil. Dengan kata lain, manusia ini adalah miniatur alam semesta. Bintang-bintang yang ada di langit ada di otak kita. Kalau kita belajar biologi manusia, konstruksi otak manusia mirip rancangan semesta yang cukup rumit. Namun untuk lebih memudahkan pemahaman, marilah kita menelaah manusia dalam tataran yang lebih simpel. Siapa sebetulnya diri kita ini?
Secara garis besar, diri ini terdiri dari dua aspek. Aspek dhahir (tubuh kasar) dan aspek batin (tubuh halus). Aspek dhahir menyangkut apa yang bisa dilihat oleh mata indra kita. Sedangkan aspek batin berkenaan dengan seuatu yang hanya bisa dirasakan. Aspek batin yang paling bisa kita rasakan adalah nafas yang keluar masuk dari tubuh kita. Nafas bisa kita rasakan dengan hidung kita, namun tidak bisa dilihat oleh mata kita. Agama mengajarkan bagaimana di setiap keluar masuknya nafas kita ini untuk tidak lupa mensyukurinya dan mengingatnya. Bersyukur atas nafas yang keluar masuk dalam tubuh kita tanpa bayar alias gratis. Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan ketika orang mulai sesak nafas dan tidak bisa bernafas.
Aspek batin yang kedua adalah pikiran kita. Pikiran ini begitu jelas dan begitu nyata, tapi bukan produk iklan. Kalau kita memikirkan sesuatu, pasti ada sesuatu yang muncul. Ketika kita memikirkan orang yang kita cintai, orang tersebut hadir di depan kita. Bahkan kenangan-kenangan yang telah dilalui bersama muncul dalam pikiran kita. Dalam sebuah penelitian modern dikatakan bahwa manusia dalam setiap harinya memunculkan lima puluh ribu pikiran. Bisa dibayangkan berapa juta manusia yang ada di bumi, dikalikan dengan lima puluh ribu macam pikiran. Seandainya pikiran manusia itu kemudian menjadi padat, maka bumi ini tidak akan muat. Sesak dengan isi pikiran manusia.
Aspek batin yang ketiga adalah perasaan. Perasaan ini menyangkut alam bawah sadar manusia yang menurut psikoanalisis Freud, mengendalikan manusia dalam bertindak. Kalau kita membayangkan gunung es, maka alam kesadaran hanya menempati puncak gung es. Separo dari gunung es dan terus sampai ke dasar gunung, merupakan alam ketidaksadaran yang mendominasi prilaku manusia. Berbeda dengan pikiran yang sifatnya logis dan berada di alam sadar, perasaan lebih menyangkut bagian batin manusia yang nirsadar. Perasaan inilah yang menurut pengarang buku Quantum Ikhlas, Sentanu, 85% menentukan keberhasilan manusia. Sedangkan pikiran hanya menentukan keberhasilan manusia sebesar 15 %.
Inilah sekelumit cerita tentang tuhan dalam kaitannya dengan penciptaannya. Nampaknya penjelasan di atas yang seyogyanya menggampangkan akan konsep tuhan, akan dianggap oleh pembaca sebagai penjelasan yang juga sulit dicerna. Apalagi penjelasan di atas mau dijelaskan kepada anak kecil yang masih berumur 7 tahun. Sehingga bisa dipahami kalau jawaban sang ayah adalah jalan terbaik untuk memberikan jawaban bagi si anak: nak, kelak engkau akan mengerti bila tiba waktunya mengerti. Karena kehidupan ini hanya bisa dipahami dari belakang, namun harus dijalani dari depan. Engkau tidak akan mengerti alam pemikiran orang tua, apabila engkau belum menjadi orang tua. Engkau tidak akan mengerti Tuhan, bila dirimu tidak diliputi oleh Tuhan. Hanya tuhanlah, yang mengerti akan dirinya sendiri, ujar sang ayah.
Akhirnya selamat membaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
TEXT