Keyakinan
Banyak orang bilang bahwa keyakinan tidak bisa dipaksakan. Anggapan itu bisa dibilang benar. Karena banyak orang yang mengatakan hal itu berdasarkan pengalaman batinnya. Memang pengalaman batin ini sifatnya subyektif. Namun pengalaman batin itu menjadi obyektif, ketika banyak orang merasakan hal yang sama berdasarkan pengalaman batin yang sama. Alasan inilah yang menguatkan bahwa pernyataan itu mengandung kebenaran. Pertanyaannya kenapa keyakinan tidak bisa dipaksakan?
Yakin merupakan kegiatan yang terjadi di wilayah hati batin seseorang. Ia bukan wilayah dahir. Wilayah batin, merupakan wilayah yang sangat pribadi dan hampir-hampir tidak bisa dideteksi oleh orang lain. Terkecuali orang itu sangat dekat dengan Allah sehingga bisa membaca isi hati seseorang. Wilayah batin itu sendiri berisi berbagai macam lintasan yang kadangkala seseorang itu sulit mendeteksi bunyi pikirannya sendiri. Kesulitan itu disebabkan oleh banyaknya lintasan yang melintas di alam batin tersebut.
Banyaknya lintasan memberikan kesulitan tersendiri bagi seseorang untuk memilih. Kadang, pilihan itu sesuai dengan kemauan alam semesta (dalam artian tidak memberikan dampak buruk bagi alam sekitarnya). Terkadang, pilihan itu tidak sesuai dengan kemauan alam semesta (menimbulkan ekses yang buruk terhadap lingkungan sekitarnya). Dari sinilah muncul ibarat seorang kawan yang mengatakan kepada saya: bahwa orang yang memakai mobil bertabrakan karena yang nyetir manusia. Sedangkan bintang-bintang di langit tidak pernah tabrakan karena yang nyetir ALlah.
Sulitnya memilih pilihan yang terkadang sulit (kata orang; tidak memilihpun itu adalah suatu pilihan), maka tidak banyak orang yang memilih sekian pilihan-pilihan dengan tepat. Walaupun istilah tepat-dan tidak tepat- masih bisa diperdebatkan lebih lanjut. Namun yang penulis maksudkan tepat di sini adalah ketepatan pilihan yang sesuatu dengan jalan hidup seseorang. Jalan hidup itu sendiri ada dua; bahagia dan menderita. Yang penulis maksudkan, kalau pilihan seseorang akan sesuatu itu menjadikan dirinya berbahagia, maka pilihannya adalah tepat. Begitu pula sebaliknya. Jikalau pilihan itu membuatnya menderita, maka pilihan yang dipilih oleh seseorang itu tergolong tidak tepat.
Pilihan yang tidak tepat (membuat orang sengsara) ini kemudian dinamakan oleh banyak orang sebagai pilihan yang salah. Pilihan yang tepat (membuat hidupnya bahagia), dijuluki oleh banyak orang sebagai pilihan yang benar. Namun sampai di sini kita masih bisa memperdebatkan lagi tentang apa itu kebahagiaan.
Penulis Lanjutkan Kapan-kapan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
TEXT