Ada seorang suami mengadu kepada sang kyai. Ini kyai istri saya tidak nurut kemauan saya, ujar sang suami sambil melirik sang istri. Dia malah sibuk berpolitik. Bok, ya saya saja yang berpolitik. Itu kan kawasan laki-laki.
Sang kyai bertanya: apa benar pengakuan sang suami ibu? si istri mengangguk. Lalu sang kyai bertanya kepada si suami; apa salah jika seorang ibu berpolitik?
Si suami tidak terima pertanyaan sang kyai. Ia merasa tidak dibela oleh kyai. Pengennya dia mengadu untuk mencari dukungan sang kyai agar membelanya. Dan istri 'insaf' dan mau kembali menjadi ibu rumah tangga yang baik-baik menurut definisinya.
Begini, sang kyai menengahi, kita sebagai laki-laki jangan berpikir sepihak dari sudut pandang kita saja. Cobalah berpikir dari sudut pandang istrimu. Mungkin istrimu tidak ada kegiatan di rumah dan punya jiwa politik juga. Toh kamu berbeda partai dengan istrimu. Apakah kamu takut tersaingi dengan prestasi istrimu? Apakah prestasi istrimu jika melebihi kamu, harga dirimu merasa diinjak-injak?
Ah lagi-lagi kekhawatiran yang muncul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
TEXT