Suatu saat, saya ziarah ke astanya syeh kholil bangkalan. Sampai di sana ada orang bertanya gimana sebetulnya hidup ini. Ia bercerita tentang istrinya yang sudah dua dan akan menginjak tiga. Tapi ia masih kebingungan.
"Saya sendiri tidak tahu gimana hidup", kata saya. Saya hanya mencoba mensyukuri apa yang tuhan kasih kepada saya saat ini. Sebab hidup adalah berkah. Apa yang ada di depan kita ya kita syukuri besar kecilnya. Usahakan walau bagaimanapun kita tidak mengeluh. Ini hanya berbincang loh, kata saya. Sebab saya sendiri terkadang lupa untuk mensyukuri sesuatu".
Lalu datang seorang kawan membawa ote-ote. Ketika ote-ote itu ada di hadapan kami, kawan saya yang baru berbincang-bincang tentang syukur tadi bertanya kepada kawan yang membawa ote-ote. "Mas ada pisang goreng yang hangat-hangat enggak mas"? tanyanya.
Saya kemudian menimpali. "Baru kita membicarakan tentang syukur, sampean sudah tanya sesuatu yang tidak ada di hadapan kita". Coba kita makan dulu bareng-bareng baru kita mengucapkan al-hamdulillah.
Akhirnya kami berdua tertawa. Menertawakan diri kami masing-masing yang sering lupa bahwa yang ada di depan kami harus kami syukuri. Dan itu terjadi setiap saat.
Akhirnya dia berkata kepada saya "loh ini mas, ternyata belajar bersyukur juga tidak sekali jadi, butuh proses, lalu gimana dengan ajaran yang lain"?
Ah' kata saya berguman dalam hati "memang tidak mudah orang bersyukur".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
TEXT