Kamis, 04 Juni 2009

Cerita Tembakau

Cerita di balik murahnya harga tembakau Madura.

Sebuah Kesaksian[1]

Menjelang panen tembakau di Madura, banyak petani menaruh harapan. Harapan akan mahalnya harga tembakau. Namun harapan, seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya tinggal harapan yang tak pernah dan mungkin tidak akan pernah menjadi suatu kenyataan. Walaupun menjadi kenyataan, namun kenyataan yang sifatnya sementara. Maksudnya harga yang mahal hanya terjadi dalam waktu beberapa hari saja dari masa panen. Setelah itu, harapan raib entah kemana. Pertanyaannya, ini salah siapa, atau bagaimana sebetulnya benang kusut di balik murahnya harga tembakau ini.

Awalnya, harga tembakau di Madura memenuhi harapan petani tembakau. Dalam pengertian, hasil panen bisa memenuhi kebutuhan petani dan petani bisa melunasi hutang masa sebelum panen. Mengingat, kebanyakan petani di Madura, menanam tembakau dengan modal hutang. Hutang tersebut akan dibayar setelah masa panen tiba. Hutang itu, selain untuk modal tanam, digunakan untuk menopang kehidupan keluarga yang hanya mengandalkan hasil pertanian. Dan harapan mereka hanyalah tembakau yang akan dipanen itu.

Ada cerita menarik seputar harapan mereka ini. Ketika saya masih kecil, waktu itu sekitar tahun delapan puluhan, banyak wajah-wajah sumringah dan menyenangkan di Madura ketika musim panen tembakau tiba. Saya melihat orang-orang yang masad (memproses daun menjadi tembakau), atau mengiris-ngiris daun tembakau menjadi potongan kecil-kecil, diberi makanan dengan lauk-pauk yang lumayan mewah menurut ukuranku sebagai orang desa waktu itu. Rata-rata ikannya daging sapi. Saya berfikir, apakah tidak rugi kalau dikalkulasi dengan penjualan tembakau, kalau memberi makan tukang iris itu dengan sapi yang satu kilonya bisa mencapai dua puluh lima ribu rupiah waktu itu.

Namun mereka tidak peduli soal daging yang disediakan kepada para pekerja tersebut. Hal ini mengingat ‘daun emas’ [istilah orang Madura bagi daun tembakau] banyak mendulang rupiah dalam setiap kilonya. Lagi pula, kebiasaan orang Madura, ketika musim tembakau, makanan bukan hanya sesuatu yang mengenyangkan, tapi juga merupakan identitas mereka bahwa mereka mampu. Makanan menjadi prestise tersendiri.

Di musim tembakau, aku juga melihat kebiasaan orang Madura waktu itu, tidak merokok tembakau yang mereka hasilkan. Mereka lebih suka membeli rokok yang sudah jadi. Kalau perlu merokok hasil buatan pabrik terkenal. Salah seorang teman saya waktu itu, merasa bangga kalau dia bisa merokok gudang garam surya. Katanya, tidak ada rokok yang melebihi kenikmatan gudang garam surya. Saya sendiri yang waktu itu juga merokok walaupun masih kecil, merasakan kenikmatan yang lebih kalau merokok tembakau hasil produksi orang Madura sendiri. Tapi imajinasi orang tidak sama dalam mempersepsi rasa. Dan rasa tidak bisa diperbandingkan. Rasa hanya bisa dirasakan oleh yang bersangkutan.

Tembakau sendiri menurut ceritanya dibawa oleh orang-orang Belanda, yang dijadikan komuditi dan dijual ke wilayah Eropa yang memang pangsa pasar tembakau. Untuk memenuhi kebutuhannya, Belanda membuka lahan tembakau di berbagai tempat. Di Jawa timur sendiri tanaman tembakau hampir merata. Bahkan di Jember, ada tembakau yang terkenal dengan sebutan na’ongs yang digemari oleh orang-orang luar negri. Untuk bahan rokok cerutu, pihak pabrik biasanya menanam sendiri yang kalau di Jember banyak ditemui di daerah Balung yang dikurung dengan kelambu di atasnya. Karena banyaknya petani tembakau di Jember, pemerintah kabupaten Jember pernah merencanakan tembakau sebagai identitas Jember. Mereka sudah merencakan proyek identitas itu dengan membuat tarian tabako, yang namanya diambil dari tembakau. Namun proyek ini gagal karena tembakau bukan tanaman khas Jember. Jember bukanlah asal-muasal tembakau.[2]

Bertahun-tahun mereka menikmati mahalnya harga tembakau. Kenikmatan mahalnya harga tembakau bukan hanya dinikmati petani. Namun juga dinikmati oleh para pedagang tembakau. Banyak orang ketika masa panen menjadi uforia untuk menjadi pedagang. Orang yang asalnya petani, ikut-ikutan menjadi pedagang tembakau demi mendulang rupiah di dalam masa yang singkat dengan hasil yang melimpah. Bahkan dengan modal pinjaman dari rentenir, yang menuntut pengembalian cepat dan bunga membengkak, mereka rela untuk meminjam sebagai modal berdagang tembakau. Menurut hasil wawancara saya dengan salah seorang pedagang tembakau yang sudah bergelut menjadi pedagang tembakau selama enam tahun, Ahmad namanya, banyak orang Madura yang menjadi pedagang tembakau berani menghutang sapi seharga 4 juta dan sehabis panen tembakau mengembalikan pinjaman menjadi 6 hingga delapan juta. Hal ini merupakan pengembalian yang jauh di atas bunga Bank manapun. Padahal masa panen tembakau diperkirakan hanya punya durasi waktu satu bulan. Mereka berani mengambil resiko demikian besar karena memang hasil dari berdagang tembakau sangat menggiurkan. Modal empat juta kalau dibuat modal dagang selama masa panen tembakau, bisa mendatangkan hasil lebih dari separo. Suatu jumlah yang fantastis bagi pedagang dengan modal kecil dan pas-pasan.[3]

Namun ketika saya beranjak dewasa dan mulai mengerti pembicaraan orang, saya mulai mendengar keluh kesah petani tembakau yang kian hari kian menghilang wajah sumringahnya. Saya tidak lagi melihat wajah cerah saudara-saudara yang datang dari Madura ke rumah. Kebetulan saya sendiri sudah besar dan lahir di Jember, yang oleh orang Madura disebut oreng Jebeh, istilah Jawa yang dimadurakan. Orang Madura biasa mengganti huruf W dengan huruf J. Bondowoso diganti menjadi Bendebesah. Penggantian ini bukan hal yang prinsip bagi orang Madura. Karena kesalahan mengucapkan nama atau bahasa bukan hal yang dipandang perbuatan yang mengandung dosa. Perubahan vokal dan konsonan dianggap suatu kesalahan dan punya implikasi dosa, apabila menyangkut ayat-ayat suci al-Qur’an. Dosa sendiri merupakan konsep orang Madura untuk sesuatu yang tidak boleh dilakukan dan dilanggar. Karena orang yang melanggar akan mendapatkan laknat dan hukuman dari Tuhan. Saya pernah mendengar orang Madura yang salah ucap terhadap suatu nama, dan ketika ditegor oleh seorang kawan, ia menjawab: dinah tak pak apah cong, makeh salah, la sala nik sakonik tak parapah, tak kerah dusah ke Alla. Pokok en benni al-Qur’an. Mon al-Qur’an, beh! jek acem macem, dusah nak. Ariah caen ustad engkok lambek ning madrasah. (gak apa-apa nak, walaupun saya salah mengucapkan kata-kata, salah sedikit saja tidak apa-apa, yang penting kan tidak dosa kepada Allah. Pokoknya bukan al-Qur’an. Kalau al-qur’an, jangan macam-macam, dosa hukumnya. Ini kata guru saya dulu waktu saya di Madrasah).

Mungkin, sebagian orang akan melihat dan menafsirkan ucapan bapak tersebut sebagai bentuk prilaku orang-orang Madura yang suka ngotot dan selalu menganggap benar apa yang dilakukan. Senyampang perbuatan itu tidak bertentangan dengan prinsip yang dia yakini, yakni prinsip hidup yang telah diajarinya dari madrasah-madrasah yang ada di kampung-kampung. Dan ketaatan orang madura kepada guru ngaji di madrasah, pesantren maupun di sekolah umum melebihi ketaatan kepada lainnya. Bahkan ketaatan kepada guru, terutama guru pesantren, mengalahkan ketaatan kepada orang tua sendiri. Prinsipnya, orang tua membawa dia turun dari langit ke bumi, sedangkan guru membawa dia naik dari bumi ke langit. Posisi langit dan bumi tentu lebih tinggi langit menurut konsep kosmos yang ada di literatur-literatur pesantren.

Kondisi ketaatan yang tanpa reserve ini terkadang, untuk tidak menggunakan kata seringkali, digunakan oleh kyai-kyai yang ikut parta politik untuk mengeksploitasi suara masyarakat dalam pemilu, pilkadal, dan pilkades. Bahkan eksploitasi ini berlanjut kepada hal-hal yang lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Namun orang-orang Madura tidak pernah mempedulikan hal-hal, yang menurut ahli kebudayaan disebut eksploitasi. Karena bagi orang Madura, pengabdian kepada kyai dan guru ngaji, sama halnya pengabdian kepada tuhan. Tuhan bersemayam di dalam guru dan kyai. Dan Kyai menjadi tempat satu-satunya mereka mengadu dan berkonsultasi tentang berbagai macam persoalan kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan menurut wawancara dengan seorang penduduk yang pernah kehilangan sapi, berkata kalau kehilangan sapi mengadu kepada polisi, ia akan kehilangan sapi dua kali. Sapinya tidak ketemu, malah polisi minta uang untuk mencari maling, yang malingnya sudah pasti tidak ketemu. Karena menurutnya, sebenarnya polisi sudah tahu bahwa maling A yang mencuri, tapi menurut pengakuannya, terkadang polisi menyuruh maling tersebut untuk mencuri dan polisi sering narget kepada maling A tersebut.[4] Kalau mengadu kepada kyai, walaupun sapinya tidak ditemukan, minimal mereka mendapatkan ketenangan. Kondisi ini menjadikan kyai tetap menjadi pilihan masyarakat untuk mengadukan persoalan mereka, termasuk pengaduan soal murahnya harga tembakau.

Namun kyai di beberapa tempat di Madura saat ini mulai kehilangan legitimasinya. Banyak kyai di Madura tidak sama prosesnya dengan ayah-ayah mereka dahulu dalam keteguhan hatinya membela rakyat kecil. Kalau orang tua mereka, banyak yang tidak mau kepada uang yang tidak jelas sumbernya dan betul-betul membela masyarakat lemah. Bahkan menganggap uang pemberian pemerintah sebagai pemberian yang syubhat (tidak jelas halal dan haramnya).

Kondisi ini berbalik bila dilihat saat ini. Banyak kyai berpolitik dan bermain dalam monopoli bisnis. Hal ini membuat berang kyai-kyai sepuh yang masih konsisten dan teguh dengan perjuangan masyarakat. Salah seorang kyai sepuh, kyai Sa’ad namanya, yang saya temui berkomentar begini:

Benyak kyaeh mangken, alakoh se benni lakonnah. Benni lakonah ekelakoh. Masak kyai rok norok pilkada, rok norok adegeng bekoh. Soro jek ancor masyarakat. Mon polannah kullu syain haa likun. Kabbi bekal rosak.

Banyak kyai saat ini melakukan sesuatu pekerjaan yang sebetulnya bukan bidang pekerjaannya. Bukan kerjaanya, dikerjakan. Masak, kyai ikut-ikutan pilkada dan ikut-ikutan berdagang tembakau. Apa gak akan menjadi hancur masyakat nantinya. Memang, setiap sesuatu selain Allah akan rusak.

Kyai ini nampaknya menghadapi sebuah dilema yang saling kontradiksi di dalam dirinya. Di satu sisi, kyai ini jengah melihat prilaku kyai-kyai yang sudah keluar jalur dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak semestinya dilakukan oleh seorang kyai. Namun di sisi lain, sang kyai punya kesadaran penuh bahwa semuanya akan hancur kecuali wajah tuhan. Karena semuanya hancur kecuali tuhan, maka prilaku demikian sebetulnya masih dalam koridor kehendak Tuhan dan kita sebagai manusia tentu mengikuti saja kemauan tuhan.

Terjadi sikap dualistik pada sang kyai Sa’ad ini. Ia mengkritik sekaligus sadar bahwa kekacauan yang terjadi sebetulnya juga kehendak tuhan. Bahkan dia mengatakan bahwa maling akan terus ada, karena kyai masih ada. Memang dibuat begitu sama tuhan. Akan tetapi sebagai kyai dia mengkritik teman-teman sesama kyai yang prilakunya sudah tidak sesuai dengan tugas-tugas kyai yang seharusnya mengemban amanat rasul. Sebagai rasul, seseorang tidak boleh mengerjakan apapun selain tugas kerasulannya. Ia harus jauh dan selalu mengambil jarak dengan kepentingan-kepentingan yang sifatnya duniawi.

Hal ini menimbulkan ketegangan dan pergulatan batin tersendiri bagi kyai-kyai yang masih berkecimpung dalam masyarakat banyak dan punya konstituen. Di satu sisi, ia punya umat dari berbagai macam kelompok dan golongan yang harus diayomi semua. Di sisi yang lain, kebutuhan lembaga pendidikannya juga perlu dipikirkan. Ia harus menandatangani kontrak kerja dengan guru-guru di lembaganya untuk menaikkan gaji guru. Kalau tidak dinaikkan gajinya, gurunya banyak yang berhenti. Gedung-gedung sudah banyak yang rusak yang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sementara donatur masyarakat tidak banyak yang bisa diharapkan. Alih-alih biaya hidupnya sendiri juga tinggi.

Menggunakan konsep menolak sumbangan pemerintah karena sumbernya yang tidak jelas, merupakan kesia-siaan belaka. Mengirim proposal kepada pemerintah juga merupakan hal yang tabu karena secara psikologis, karena kyai dilarang meminta-minta. Apabila masa pemilu tiba, banyak calon yang langsung memberi uang dan meminta restu yang kadang tidak bisa ditolak oleh sang kyai. Ada pantangan tersendiri bagi kyai untuk menolak. Sebab penolakan adalah bentuk lain dari sebuah pengingkaran yang hal itu sangat bertolak belakang dengan ajaran sang kyai. Kalau tidak berkecimpung dalam politik, jelas tidak punya pundi-pundi yang mencukupi. Karena uang memang tidak ada cukupnya, kecuali yang bersangkutan sendiri yang merasa cukup. Sebab pada akhirnya, perasaan cukup itulah yang akan menentukan kehidupan seseorang dalam keadaan berkecukupan atau tidak. Di sinilah, urgensi ajaran agama untuk selalu menerima dan ikhlas. Berfikir kemudian bukan untuk menguasai, tapi berfikir adalah untuk bersyukur.

Bagi kyai yang mengisolasi diri dengan masyarakat akan sangat mudah mengambil jarak bahkan menjauhi hal-hal yang bersifat duniawi. Ia tidak perlu terseret-seret oleh kepentingan dan keinginan masyarakat yang menjadi konstituennya. Karena memang ia tidak punya konstituen. Ia juga tidak akan didatangi calon-calon dari pemilu untuk dimintai restu sebab tidak punya kekuatan massa. Ia juga bisa mengkritik seenak hatinya karena ucapannya tidak akan menjadi fatwa yang harus dilaksanakan oleh konstituennya. Karena kyai yang saya wawancarai ini, walaupun dimintai tolong banyak orang dalam hal pengobatan dan lainnya, ia tidak punya santri dan kerjanya hanya menyendiri dan menunggu orang yang meminta tolong kepadanya.

Persoalan: sebuah pemetaan awal

Kembali kepersoalan awal tentang murahnya harga tembakau, maka pertanyaan yang muncul sebetulnya adalah akar persoalannya dari mana sehingga harga tembakau menjadi murah. Saya kemudian mencari tahu dari orang-orang yang berkecimpung dalam jual beli tembakau. Kebetulan saya bertemu dengan seorang kawan yang pernah menjadi pedagang tembakau selama enam tahun. Ahmad namanya. Mungkin kawan yang terlibat dengan perdagangan tembakau ini memberikan jawaban lain. Selama ini jawaban yang muncul dari petani tembakau yang saya tanya adalah jawaban yang selalu menyalahkan pembeli besar semisal Pabrik Gudang Garam Surya dan sebagainya. Ada juga jawaban bahwa ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mempermainkan harga.[5] Tapi kenapa tiba-tiba muncul permainan harga? Apakah kemunculan itu terjadi seketika?. Kalau seketika, kenapa petani pernah menikmati harga yang stabil dan tidak dipermainkan. Ada juga jawaban petani dari Pamekasan bahwa pemerintah daerah terlalu banyak menarik pajak bagi pihak pembeli tembakau dalam skala besar dan bagi produsen rokok sendiri yang juga pembeli besar dalam tembakau.

Di tengah-tengah carut-marutnya jawabannya yang masing berdasarkan prasangka yang masih banyak mengandung kemungkinan itu, Ahmad, kawan mantan pedagang tembakau tadi bercerita:

Dulu, menjadi pedagang tembakau adalah pekerjaan yang membawa untung besar. Banyak teman-temannya yang tertarik dengan untung besar yang menjadi pedagang tembakau. Karena banyak keuntungan yang menggiurkan, banyak orang yang menjadi pedagang dalam skala kecil mengambil langsung kepada petani dan dijual kembali kepada pedagang besar yang memproduksi rokok dalam skala besar pula. Dan dia menyebut pembeli tembakau dengan skala besar itu dengan sebutan Cina. Cina itu, sebelum menjadi pembeli dalam skala besar, mereka terlebih dahulu bertani tembakau. Sehingga ia mengetahui seluk beluk tembakau. Jangankan mencium tembakau, menyentuh tembakau dengan tangan saja, mereka sudah tahu bahwa tembakau yang dipegangnya adalah tembakau asli Madura atau tembakau palsu atau yang bukan asli Madura. Mereka juga tahu apakah tembakau yang dibeli itu dipanen dalam masa muda, atau dipanen dalam usia yang cukup tua untuk dipanen. Karena waktu tembakau harganya masih baik dulunya, banyak tembakau yang belum cukup tua dan siap untuk dipanen, banyak petani sudah memanennya. Efeknya tembakaunya banyak yang rusak dalam waktu yang singkat.

Lebih jauh Ahmad melanjutkan ceritanya:

Ketika tembakau mahal, banyak pedagang dalam skala kecil yang tergiur dengan untung besar kemudian membawa tembakau dari luar Madura untuk dijual di Madura. Tembakau dari Jember, Besuki, Bondowoso dan Situbondo diangkut dalam jumlah besar ke Madura. Bedanya, tembakau Madura punya rasa manis, tembakau luar Madura tidak punya rasa manis. Untuk memaniskan tembakau, mereka mencampur dengan gula merah. Namun campuran ini bukan tanpa resiko. Resikonya adalah tembakau akan menjadi keras dan rusak. Sehingga tidak bisa digunakan sebagai bahan baku. Karena memang tembakau rusak dalam jangka waktu kurang dari satu tahun.

Sementara, pabrik sendiri mengambil barang saat ini tidak langsung diproses menjadi rokok saat ini juga. Biasanya, bahan baku saat ini, digunakan dan diproses tiga tahun yang akan datang. Istimewanya tembakau madura adalah tembakau yang walaupun disimpan dalam jangka waktu lama, tembakau tidak rusak. Malah baunya semakin harum dan rasanya semakin gurih.

Awalnya, pabrik tidak menaruh curiga apapun terhadap tembakau yang disetorkan pedagang-pedagang dalam skala kecil itu. Namun akhirnya ketahuan juga, karena baru dapat enam bulan tembakau sudah keras dan membatu. Kejadian itu diketahui setelah cinanya melakukan peninjauan langsung ke gudang yang selama ini dipercayakan kepada orang-orang Madura sendiri. Bahkan salah seorang Cina itu berkata kepada para pedagang kecil seraya melempar tembakau itu di depan pedagang-pedagang tembakau yang menyetor tembakau dalam skala kecil itu. Sambil melemparkan tembakau, ia berkata: kalau begini terus kondisi tembakau yang anda setorkan, saya tidak betah berbisnis dan tinggal di Indonesia.

Kondisi ini diperparah oleh prilaku petani yang juga tidak mau ketinggalan dalam kecepatan mengambil keuntungan. Tembakau yang semestinya belum bisa dipanen, dipanen. Resikonya tembakau yang dihasilkan tidak bagus karena memang hasil panen prematur. Ketika dipasat (diproses daru daun menjadi tembakau), semua tangkai dan pohon yang muda juga dipasat. Dulu, pasatan itu hanya melibatkan daun dan itupun daun yang sudah memang betul-betul siap untuk dipanen sehingga tembakau yang dihasilkan harum dan tahan lama. Ketika muda sudah dipanen, dan bukan hanya daun yang diproses, tembakau menjadi kasar, tidak harum dan kurang ketahannya. Hal ini dilakukan karena yang dilihat hanya untung dan untung. Mereka tidak pernah memikirkan dampak dari prilaku yang tanpa mereka sadari. Mereka telah menggali jurang mereka sendiri.

Menurut Ahmad lebih lanjut, prilaku pedagang skla kecil yang ingin cepat mengambil untung itu juga didasari motif lain, yaitu keterdesakan mereka untuk segera mengembalikan pinjaman modal kepada pemberi pinjaman. Banyak diantara mereka modalnya berasal dari pinjaman berupa sapi. Sapi yang dipinjam misalnya dihargai tiga juta, dalam waktu selesai panen tembakau harus dikembalikan lima juta. Bahkan ada peminjam yang harus mengembalikan sampai tujuh juta. Dan anehnya, banyak peminjam yang berani mengambil resiko itu demi mendapatkan modal dagang. Akhirnya, yang mereka lakukan adalah melakukan cara-cara yang sebetulnya merugikan mereka sendiri.

Prilaku pedagang skala kecil dan petani mendapatkan umpan balik dari pengusaha dan produsen rokok yang mengambil tembakau dari mereka. Pengusaha-pengusaha itu kemudian melakukan cara-cara yang juga merugikan bahkan hingga saat ini pedagang skala kecil dan petani tidak mampu berbuat apa-apa untuk menaikkan harga tembakau mereka. Secara tak langsung, genderang perang telah ditabuh oleh pedagang skala kecil dan petani sendiri. Kepercayaan diantara pedagang kecil dan besar menjadi hancur. Hubungan sosial juga otomatis hancur. Hubungannya bukan lagi hubungan harmonis, yang saling membutuhkan dan saling menghidupkan. Hubungan yang terjadi adalah hubungan yang mematikan dan dibuat hanya petanilah yang membutuhkan uluran sang penguasa modal. Posisi pemilik modal menjadi di atas angin yang hanya menoleh dengan dendam dan ketidakpedulian. Sesekali pihak gudang garam hanya meninjau tembakau dari atas helikopter mereka.

Padahal kalau petani tembakau se-Madura serempak mengubah lahan tembakau mereka menjadi lahan jagung atau lainnya untuk beberapa tahun saja, pengusaha rokok besar maupun kecil akan kesulitan mendapatkan bahan baku. Namun perubahan lahan tanaman itu hanya mungkin terjadi di angan-angan. Karena proses penubuhan tembakau atau daun emas itu sendiri sudah sangat mendarah daging bagi petani tembakau itu sendiri. Dan kejadian ini adalah efek dari petani dan pedagang kecil sendiri yang memang perlu disadari oleh mereka sendiri.

Saat ini, pengusaha rokok besar hanya membuka gudang untuk menerima tembakau yang dijual petani hanya sementara waktu. Harga tembakau yang mahal hanya berumur tiga hari dari masa panen. Itupun harga tertinggi hanya ditetapkan sebesar tiga puluh ribu rupiah. Tiga hari kemudian harga sudah anjlok menjadi dua puluh ribu rupiah. Selanjutnya harga akan terus anjlok menjadi sembilan ribu rupiah perkilo. Alasan yang selalu dijadikan senjata untuk menurunkan harga tembakau adalah tembakau petani rusak terkena hujan. Dan anehnya, cuaca di Madura, ketika masa panen tembakau tiba, menjadi sangat tidak bersahabat dengan petani. Hujan turun bisa menjadi sangat tiba-tiba dan tak terduga sebelumnya. Apakah alam ini sudah bosan dengan prilaku manusia yang selalu berbuat dosa, demikian Ebiet G. Ade dalam satu bait syair lagunya.

Di tengah ketidakmenentuan harga dan nasib ini, ada secercah harapan bagi petani tembakau dan pedagang kecil. Sekarang banyak usaha home industri rokok bermunculan. Kemunculan home industri rokok ini banyak menyerap tembakau petani yang tidak tersedot oleh perusahan besar. Geliat home industri ini sangat disadari oleh pengusaha besar sehingga pengusaha besar ngotot meminta pemerintah untuk menerapkan cukai kepada semua perusahaan rokok yang ada termasuk rokok home industri. Tuntutan mereka tentu rasa keadilan yang harus dibagi sama. Karena mereka sama-sama pengusaha rokok baik skala kecil maupun besar. Toh mereka juga menjual rokok kepada masyarakat yang juga menjadi wilayah pasar perusahan rokok dalam skala besar.

Perangnya kemudian menjadi bertambah. Bukan hanya pengusaha rokok besar dengan petani, tetapi perang antara pengusaha rokok besar dengan pengusaha rokok home industri. Di samping itu, perang antara perusahaan rokok besar dengan perusahaan rokok besar juga sangat sengit. Hal ini bisa dilihat dari cara-cara bagaimana mereka memperebutkan ruang publik dengan tampilan iklan di berbagai media, baik media cetak maupun media elektronik. Iklan kemudian menjadi wilayah perebutan ruang.

Di pihak lain, ijin memproduksi dan cukai rokok, menurut sebagian sumber yang memproduksi rokok home industri, sulit didapatkan dari pemerintah.[6] Atau hal ini juga disebabkan oleh kemalasan mengurusi birokrasi cukai yang terlalu berbelit. Karena memang motto birokrasi di Indonesia adalah kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah. Bisa dipermudah, kalau ada harta dan wanita, bahkan bisa jadi tahta, menurut salah satu sumber yang pernah bekerja di bagian ekspor-impor dan sering berhubungan dengan bea dan cukai. Kalau gak gitu pak, pengiriman barang menjadi terlambat, barang gak keluar dari pelabuhan, ujarnya. Dan tempat negosiasinya pun kebanyakan bukan di kantor, tapi di hotel-hotel yang menjadi kebiasaan tempat mangkal untuk menancapkan cakar-cakar mereka.[7]

Akhirnya, akankah muncul dan perlu dimunculkan pembicaraan ulang mengenai perlunya membina kerja sama dan membangun rasa saling percaya kembali antara petani atau wakilnya dan pengusaha besar dalam forum bersama? Atau keadaan ini kita biarkan saja menurut alur sejarah yang akan terus berjalan dengan membiarkan ketimpangan dan perang harga yang tak pernah usai? Pembaca sendirilah yang lebih tahu jawabannya.


[1] Ditulis oleh :

Muhammad Holid, M.Hum

Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Bondowoso

Dalam rangka penyajian tulisan di Jurnal Renaissance.

[2] Informasi tentang pembentukan identitas jember ini hasil wawancara dengan aktifis gerakan mahasiswa Unej Jember, namanya Praminto Moahayat.

[3] Mengenai persoalan pinjam meminjam ini saya mendapatkan informasi dari pedagang tembakau, Ahmad dan Pak Saini.

[4] Hal ini berdasarkan pengakuan seseorang yang tak perlu saya sebutkan namanya, demi menjaga kerahasiaan yang bersangkutan.

[5] Pengakuan ini berdasarkan wawancara saya dengan beberapa petani tembakau di Pamekasan.

[6] Hal ini didasarkan kepada wawancara penulis dengan salah seorang pengusaha rokok home industri yang rokoknya dijual antar rumah demi menyambung hidup sehari-hari.

[7] Hal ini berdasarkan pengakuan Pak Abidin, yang telah lama bergelut dalam bidang ekspor-impor. Hal ini juga didasarkan kepada pengakuan pak Muzakki, yang lama menjadi camat dan birokrasi yang mengurusi ketenaga kerjaan. Muzakki sendiri bercerita bahwa dirinya banyak mencicipi perempuan yang dibawa oleh klien. Bahkan tidak jarang, klien membawa perempuan luar negeri, yang menurut muzakki paling enak rasanya perempuan Vietnam dan New Zeeland.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TEXT