Sabtu, 13 Juni 2009

Menjadi Manusia

Menjadi Manusia

Ada sebuah cerita yang terkenal di dalam dunia sufi (tasawwuf) tentang seorang laki-laki yang ahli ibadah dan seorang perempuan pelacur. Sebutlah sang laki-laki itu Abid namanya dan Perek untuk sebutan si perempuan pelacur. Sehari-hari kerjanya si Abid adalah beribadah kepada Allah. Sang Abid rajin shalat dan tidak pernah meninggalkan shalat. Sedangkan si Perek kerjanya kebalikan si Abid. Selain sebagai perempuan pelacur, si Perek tidak pernah shalat.

Dalam khasanah fikih (Yurisprudensi Islam) perbuatan meninggalkan shalat merupakan dosa besar. Biasanya dalam khasanah fikih orang yang meninggalkan shalat sering disebut sebagai tarikus shalat. Dan pelaku tarikus shalat itu dihukumi sebagai orang yang melakukan dosa besar yang disebut dengan al-kabair. Orang yang melakukan dosa besar masih ada kemungkinan untuk diampuni kecuali dia melakukan perbuatan syirik. Namun istilah perbuatan syirik ini masih mengundang perdebatan. Apakah yang dimaksud dengan perbuatan syirik adalah perbuatan menyekutukan Allah seperti yang dialamatkan kepada mereka yang menyembah patung dan sebagainya. Atau, apakah yang dimaksud dengan syirik itu adalah menduakan Allah seperti halnya diri kita yang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri dari pada kepentingan Allah? Kalau pemahaman yang terakhir ini kita anut dan kita sadar bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin, maka pertanyaannya adalah apa sebetulnya kepentingan Allah dan apa kaitannya dengan cerita di atas.

Ada satu peristiwa dari cerita di atas yang perlu kita cermati bersama dalam kaitannya dengan pernyataan lebih mementingkan kepentingan Allah. Suatu hari, ada seekor anjing yang kelaparan di desa Abid dan Perek. Kebetulan Abid dan Perek berada di desa yang sama. Anjing itu berjalan ke sana kemari mencari makan. Pertama kali yang melihat anjing itu adalah si Abid. Si Abid begitu melihat anjing merasa jijik. Dan berguman dalam hati “dasar anjing menggonggong ke sana kemari menggangu orang tidur saja”. Sang abid tidak mempedulikan anjing tadi. Ia hanya berlalu dan bersungut.

Dalam pandangan keagamaan sang Abid, anjing merupakan binatang yang najis. Orang yang menyentuhnya pun harus membasuh bekas sentuhan dengan air tujuh kali yang salah satunya dicampuri dengan debu. Ini menandakan bahwa anjing merupakan hewan yang buruk. Dan najisnya pun tergolong najis berat (mugholladhoh).

Bahkan diterangkan dalam sebuah hadis bahwa malaikat tidak akan masuk rumah seseorang yang di dalamnya terdapat gambar anjing. “Wong gambarnya saja tidak bisa dimasuki malaikat, apalagi anjingnya. Apalah artinya saya memberi makan kepada anjing itu dalam beribadah kepada Allah”. Begitulah sang Abid berbicara kepada diri sendiri.

Lama menunggu dan tak ada yang peduli kepada sang anjing, akhirnya Perek datang. Waktunya pun sudah larut. Kebetulan malam itu ia pulang malam setelah kecapean melayani dua orang sekaligus pelanggan setianya. Si Perek yang tak tahu persoalan agama tentang kenajisan anjing, langsung saja begitu melihat sang anjing kelaparan memberikan makanan yang baru dibelinya untuk persiapan makan malam di rumah. Rasa iba tiba-tiba menghantui dirinya. Ia tidak tega dengan anjing yang kelaparan. Dan ia rela memberikan makan malamnya kepada si anjing tadi.

Alhasil dipengadilan Tuhan sang Perek dan sang Abid sama-sama dihadapkan kepada Tuhan untuk dimintai pertanggung jawab atas perbuatannya di dunia. Sang Abid merasa gagah di dahapan Tuhan. Sementara si Perek merasa hina karena tidak ada amal yang bisa diandalkan. Ternyata Tuhan memasukkan sang Abid ke dalam neraka dan memasukkan si Perek ke dalam surga. Ada apa sebetulnya ini semua?

Selidik punya selidik ternyata Tuhan memasukkan seseorang ke neraka dan surga memang sudah kehendaknya karena memang dialah empunya surga. Manusia tidak bisa mengklaim bahwa dirinyalah yang pantas masuk surga dan orang lain pantas masuk neraka. Karena surga dan neraka memang hak prerogratif Tuhan. Siapa pun tidak bisa menentangnya. Lalu apa gunanya amal ibadah yang kita lakukan kalau tidak ada balasan atas ibadah yang kita lakukan?

Ada banyak jawaban yang bisa diberikan atas pertanyaan ini. Kelompok sufi dalam melihat persoalan ini memberikan jawaban bahwa surga bagi manusia adalah semata-mata karunia Allah. Seorang hamba tidak bisa mengandalkan ibadahnya untuk mendapatkan surga. Tugas hamba hanyalah menjadi hamba tanpa minta balasan kepada tuannya yakni Tuhan sendiri. Sebab karunia yang diberikan oleh Allah mulai nafas yang kita hirup sampai makanan yang kita makan sehari-hari, tidak bisa dihitung. Apalagi dikalkulasi dengan ibadah yang kita lakukan. Tentu tidak cukup. Ibadah semata-mata bentuk pengabdian seorang hamba kepada Allah.

Lain halnya dengan perspektif kelompok fikih. Setiap orang yang melakukan kewajiban seperti halnya shalat pasti dia akan mendapatkan pahala dari Allah. Dan yang meninggalkan kewajiban akan mendapatkan siksa. Ibadah dan surga merupakan dua hal yang punya konsukuensi logis. Bila kita rajin beribadah kepada Allah maka surga akan diraih. Sebaliknya bila kita tidak rajin beribadah nerakalah konsukuensinya.

Dua pendekatan ini saling tarik-menarik dalam dunia pemahaman kaum muslim. Kaum tasawwuf cendrung melihat perspektif kaum fikih ini sebagai kelompok yang berpandangan legal-formal. Ibadah kemudian menjadi persoalan wajib dan tidak wajib. Konsukuensi yang diharapkannya pun sebatas surga dan neraka. Dan ini merambah kepada persoalan lainnya.

Adapun jawaban yang diberikan oleh kelompok fikih adalah bahwa “kami ini menghukumi sesuatu sesuai dengan tampak dhahirnya, dan itu tugas kami, dan kami tidak menghukumi sesuatu pada persoalan batinnya. Hal itu urusan lain”. Begitulah kira-kira pengakuan yang dilontarkan oleh salah seorang pengkaji Yurisprudensi Islam kepada penulis.

Di sini kita bisa melihat bahwa dua dimensi yakni dhahir dan batin yang sebetulnya harus bergandengan secara harmonis menjadi sesuatu yang bertentangan. Ada orang yang menyebut dimensi batin ini sebagai dimensi esoteris dan dimensi dhahir ini sebagai dimensi eksoteris. Hal ini kemudian merambah kepada persoalan tafsir dalam ajaran Islam.

Terkait dengan tafsir pada dimensi batin dalam ajaran islam, perspektif tasawwuf lebih banyak bermain di wilayah ini. Dalam melihat anjing yang dinajiskan dalam hadis, ahli tasawwuf melihat bukan pada dhahirnya anjing melainkan pada sifat anjing. Anjing mempunyai sifat dengki, iri hati, dan pendendam. Jika manusia masih mempunyai sifat seperti dengki, iri hati dan pendendam maka manusia itu tidak ubahnya dengan anjing. Efeknya iri hati juga jelas. Ia akan susah berdamai dengan dirinya sendiri apalagi berdamai dengan orang lain. Karena munculnya iri hati disebabkan oleh gagalnya memiliki obyek yang diinginkan yang ia lihat pada orang lain.

Menjadi Manusia.

Lalu apa sebetulnya tugas kita sebagai manusia di dunia?. Tugas manusia adalah menjadi manusia bukan menjadi binatang dan bukan pula menjadi tumbuh-tumbuhan. Hakekat tumbuh-tumbuhan adalah kecendrungan akan makanan dan minuman. Kalau manusia kecendrungannya hanya memikirkan makanan dan minuman maka dia tak ubahnya seperti tumbuhan-tumbuhan.

Adapun hakekat binatang adalah kecendrungan untuk menerkam, membunuh, tidak peduli kepada yang lain, dan keganasan lainnya. Kalau manusia tidak mau beranjak dari sifat kebinatangannya, maka manusia tak ubahnya seperti binatang. Ia akan cendrung memikirkan diri sendiri seperti digambarkan dalam cerita di atas. Ia akan tega membunuh sesama manusia. Ia akan tega membuang anaknya di sungai. Ia akan tega memperkosa anaknya sendiri. Dan ia akan tega memukul orang lain.

Menjadi manusia harus keluar dari kecendrungan tumbuh-tumbuhan dan binatang. Memang manusia pada dasarnya tidak punya sifat yang tetap. Tapi sebagai wakil Allah manusia harus mempunyai sifat seperti yang mewakilkan. Yaitu Allah sendiri. Marilah kita semua berakhlak dengan akhlaknya Allah. Karena disitulah kita akan menjadi manusia.

Dalam cerita di atas, si pelacur perempuan telah menggunakan salah satu akhlaknya Allah yakni sifat penyayangnya terhadap makhluk Allah. Sehingga Allah tetap memandang bahwa seseorang yang menggunakan sifatnya walaupun sekelumit, dia telah layak menjadi wakil-Nya. Selamat Membaca.

Dinarasikan oleh M.H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TEXT