Ada seseorang yang bertanya kepada penulis tentang rabithah yang benar? Penulis kemudian mencoba mengklarifikasi bentuk pertanyaan. Penulis balik bertanya;”apa yang engkau maksudkan dengan rabithah dan apapula pendapat penanya tentang kebenaran”? Sebab kalau dua soal ini belum jelas, penulis tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan.
Si penanya kemudian berterus-terang bahwa dia sendiri kurang memahami apa sebetulnya rabithah. Dia hanya menceritakan perihal temannya yang berkata kepada dirinya bahwa rabithah yang benar menurut temannya itu adalah melepaskan segala urusan kepada sang guru mursyid. Padahal yang ditemui penanya itu dalam proses ‘rabithah’ adalah membayangkan wajah sang guru dan itu dibenarkan oleh sang guru mursyidnya.
Penulis kemudian berpikir adanya kejanggalan pada penjelasan penanya dan juga pernyataan temannya yang mendefinisikan rabithah sebagai pelepasan segala urusan kepada sang guru mursyid. Pelepasan mengacu kepada lepasnya sesuatu dari yang lain. Kalau aturan berguru mursyid adalah selalu mengingat sang guru, maka istilah pelepasan menurut penulis kurang tepat. Menurut penulis lebih tepat bila digunakan istilah penyerahan.
Kemudian, kalau pernyataan sang penanya tentang rabithah merupakan membayangkan wajah sang guru, hal itu berarti menyangkut cara bukan definisi rabithah. Kalau kemudian yang menjadi kejanggalan adalah persoalan cara, lalu bagaimana kalau cara itu dikaitkan dengan term benar?
Di sinilah kemudian kita penting berhati-hati dengan pernyataan yang kita ucapkan. Kalau pernyataan yang keluar dari ucapan kita sudah keliru dari awal, seterusnya pernyataan tersebut akan keliru dan tidak tepat sasaran.
Kembali ke persoalan cara. Penulis kemudian bertanya kepada si penanya; “apa kebenaran itu sendiri menurutmu”? Sang penanya kemudian menjawab bahwa dia mencari kebenaran menurut sang guru mursyid itu sendiri.
Penulis kemudian memberikan penjelasan bahwa kalau kebenaran yang penanya maksudkan adalah kebenaran menurut guru mursyid, maka kita perlu melihat pernyataan-pernyataan yang diucapkan sang guru tentang rabithah atau sesuatu yang berkaitan dengan rabithah. Dalam hal ini diperlukan data yang berkaitan dengan hal tersebut. Data itu bisa didapatkan dari ucapan sang guru mursyid. Kalau tidak pernah bertemu dengan sang guru, maka perlu menyimak pernyataan murid lain yang pernah bertemu dengan sang guru. Perlu diketahui bahwa guru mursyid penulis dan penanya adalah sama.
Sepengetahuan penulis, data yang ada menunjukkan bahwa sang guru mursyid tidak pernah mendefinisikan rabithah. Sang guru hanya sering berkata bahwa “apabila sang murid-muridku mengalami kesulitan apapun, ingatlah saya” demikian ucapan yang sering didengar penulis dari berbagai sumber.
Pernyataan ini menurut penulis bukan definisi. Ia mengacu kepada petunjuk praktis bagi murid dari sang guru mursyid untuk mengatasi kesusahan sang murid dalam hidupnya. Data-data dari murid-murid yang lain menunjuk hal yang sama. Artinya bila si murid kesulitan dimana saja dan dalam kondisi apa saja, diperintahkan untuk mengingat guru.
Mengingat guru bukan hal yang berkaitan dengan kebenaran. Mengingat berkaitan dengan sebuah upaya batin untuk tidak melupakan sesuatu. Mengingat dalam bahasa al-qur’an adalah salah satu dari definisi etimologis berdzikir. Sebab berdzikir secara etimologis adalah mengingat, mengingat-ngingat dan mengucapkan sesuatu.
Maka persoalannya kemudian bukan menyangkut benar atau tidak. Tapi menyangkut pada keyakinan kita. Kalau kebenaran yang kita pahami adalah pengetahuan yang diketahui secara interpersonal. Artinya semua orang menyaksikan sama. Kalau si A melihat bahwa 2 + 2 = 4, maka si B, C, D dan seterusnya akan mengatakan hal yang sama.
Mengingat, mengingat-ngingat dan mengucapkan sesuatu, tidak berkaitan dengan pernyataan benar dan tidak benar. Di manapun kita mengingat dan dengan cara apapun kita mengingat, semuanya adalah absah. Yang penting adalah ingat bukan cara mengingat, mengingat-ngingat dan mengucapkan sesuatu. Yang paling penting adalah apa yang kita rasakan apabila kita mengingat sang guru mursyid ketika kita mengalami kesulitan dalam persoalan hidup, yang semakin hari semakin menjadi benang yang kusut.
Allah lebih mengetahui kebenarannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
TEXT