Kamis, 04 Juni 2009

Tata Cara Mencari Ilmu Ala Ulama Kuno

Terjemahan matan ta’lim al-muata’allim

Disarikan oleh

Muhammad Holid, M.Hum

Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.


Segala puji milik Allah, yang telah memberikan keutamaan kepada anak adam dengan ilmu dan amal. Anak adam mempunyai keutamaan bila dibandingkan dengan mahluk-mahluk lain yang ada di dunia ini. Dan semoga rahmat Allah tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad, pemimpinnya orang Arab dan non-Arab. Dan semoga rahmat Allah juga dilimpahkan kepada keluarga beliau dan para sahabatnya yang menjadi tempat sumbernya ilmu dan hikmah.

Adapun latar belakang kami mengarang kitab ini adalah didasari oleh sebuah kondisi dimana kami telah banyak melihat orang-orang yang mencari ilmu yang hanya mendapatkan ilmu tapi tidak mendapatkan kemamfaatan dan buah dari ilmu itu sendiri. Kemamfaatan dan buahnya ilmu itu adalah mengamalkan ilmu dan menyebarkannya. Mereka seolah-olah ditutupi oleh suatu penghalang dalam mengamalkan dan menyebarkan ilmu tersebut. Saya melihat bahwa hal ini bisa terjadi karena mereka salah jalan dalam mencari ilmu dan meninggalkan syarat-syarat dalam mencari ilmu. Barang siapa yang salah jalan, maka orang tersebut akan tersesat dan tidak akan sampai kepada yang dituju baik sedikit maupun banyak.

Latar belakang di atas, membuat hati saya tergerak dan ingin menjelaskan kepada mereka tentang cara-cara belajar yang didasarkan kitab-kitab yang pernah saya baca dan juga didasarkan kepada apa yang saya dengar dari para ustad yang banyak mempunyai ilmu dan hikmah. Keinginan saya ini dilandaskan kepada suatu pengharapan bahwa orang yang membaca kitab ini akan mendoakan saya. Tentunya, doa yang saya harapkan adalah doa yang disertai dengan keikhlasan. Mudah-mudahan dengan karangan ini, saya juga mendapatkan keuntungan di hari kiamat dan saya juga diberikan keikhlasan dengan karangan ini. Dan kemudian saya memberi nama kitab ini dengan Taklimul Muta’allim Thariqut Ta’allum (penuntun bagi penuntut ilmu mengenai cara menuntut ilmu).

Saya kemudian membagi kitab ini menjadi beberapa bab. Bab pertama adalah tentang hakikat ilmu, fiqih dan keutamaan keduanya. Bab kedua adalah tentang niat ketika menuntut ilmu. Bab ketiga menerangkan tentang memilih ilmu, guru, dan teman dan bagaimana cara menekuninya. Bab keempat adalah tentang mengagungkan ilmu dan ahlinya. Bab kelima mengenai kesungguhan dalam mencari ilmu, mengulang-ngulang pelajaran dan cita-cita yang tinggi dalam mencari ilmu. Bab keenam adalah tentang permulaan, kadar, dan urutan-urutan dalam mengaji. Bab ketuju menerangkan tentang tawakkal dalam mencari ilmu. Bab kedelapan adalah mengenai waktu yang baik untuk menghasilkan ilmu. Bab kesembilan adalah tentang kasih sayang dan saling menasehati dalam mencari ilmu. Bab kesepuluh tentang cara mendapatkan ilmu. Bab kesebelas adalah tentang kehati-hatian ketika dalam masa belajar. Bab kedua belas menerangkan tentang sesuatu yang bisa menyebabkan orang cepat hafal dan cepat lupa terhadap ilmu. Bab ketiga belas adalah sesuatu yang bisa menambah dan mencegah rizki dan menerangkan sesuatu yang bisa menambah umur dan menguranginya. Dan akhirnya hanya dengan petunjuk Allah, saya bertawakkal dan kepada Allahlah saya mengembalikan semua urusan.

Bab Pertama Tentang Hakikat Ilmu, Fikih Dan Keutamaan Ilmu.

Rasulullah bersabda bahwa mencari ilmu hukumnya wajib bagi setiap orang islam baik laki-laki maupun perempuan. Kewajiban itu tidak menyangkut semua ilmu melainkan hanya menyangkut ilmu hal. Sebagaimana dikatakan oleh banyak ahli hikmah bahwa ilmu paling utama adalah ilmu hal dan amal paling utama adalah menjaga hal.

Adapun yang dimaksud dengan ilmu hal adalah ilmu yang menyangkut dan berkenaan dengan sesuatu yang terjadi di dalam hidup seseorang sehari-hari. Jika seseorang telah berkewajiban melaksanakan sholat, maka wajib baginya untuk belajar tentang sholat. Sehingga dia bisa melaksanakan sholat yang diwajibkan itu.

Dan seseorang juga harus mempelajari sesuatu yang berkaitan dengan sesuatu yang sifatnya wajib dan bisa menyempurnakan sesuatu yang wajib itu. Karena sesuatu yang menyempurnakan sesuatu yang wajib, maka sesuatu itu hukumnya juga wajib. Jika seseorang mempunyai harta, maka wajib baginya berzakat dan menunaikan ibadah haji. Demikian pula seseorang harus belajar tentang puasa, jika puasa itu sudah wajib bagi dirinya. Seseorang juga harus belajar tentang jual beli, jika dirinya adalah seorang pedagang. Sebagaimana Muhammad bin Hasan Rahimahumullah diminta oleh murid-muridnya untuk mengarang kitab tentang zuhub dalam berdagang. Ia menjawab bahwa ia telah mengarang sebuah kitab tentang jual beli. Yakni sebuah kitab yang menerangkan tentang orang-orang yang memelihara diri dari perkara syubhat (sesuatu yang tidak jelas kehalalan dan keharamannya) dan orang-orang yang memelihara dari barang-barang makruh dalam berdagang.

Demikian pula seseorang harus mempelajari ilmu hal dalam seluruh pekerjaan yang dia lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang yang menyibukkan diri dengan sesuatu, maka wajib juga memelihari diri dari sesuatu itu dalam hal keharamannya. Demikian pula, seseorang wajib mempelajari ilmu tentang hal-hal yang berkaitan dengan hati seperti tawakkal, bertaubat, rasa takut dan ridha kepada Allah. Karena hal tersebut berkaitan dengan sesuatu yang dihadapi oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan keterangan tentang kemulyaan ilmu sudah jelas bagi siapapun. Karena ilmu itu dikhususkan kepada manusia. Semua perkara selain ilmu, baik manusia maupun hewan sama-sama memiliki. Misalnya keberanian, keangkuhan, kekuatan, kesungguhan, kasih sayang, dan lain-lainnya selain ilmu, manusia dan hewan sama-sama memiliki. Dengan ilmu, Allah telah meninggikan nabi Adam di atas semua malaikat dan memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada nabi Adam.

Hanyasanya, kemulyaan ilmu itu sudah jelas karena ilmu itu bisa menjadi perantara kepada takwa. Takwa itu jelas-jelas mendatangkan kekeramatan di sisi Allah dan kebahagiaan yang abadi. Hal ini sebagaiamana disampaikan oleh Muhammad bin hasan bin Abdullah dalam sebuah syiirnya.

تعلم فان العلم زين لاهله * وفضل وعنوان لكل المحامد

وكن مستفيدا كل يوم زيادة * من العلم واسبح فى بحور الفوائد

تفقه فان الفقه افضل قائد * الى البر والتقوى واعدل قاصد

هو العلم الهادى الى سنن الهدى * هو الحصن ينجي من الجميع الشدائد

فان فقيها واحدا متورعا * اشد على الشيطان من الف عابد

Belajarlah ilmu, karena ilmu adalah hiasan bagi orang yang memilikinya

Dan ilmu merupakan keutamaan dan tanda bagi tiap-tiap sesuatu yang dipuji

Jadilah dirimu orang yang selalu menambah ilmu setiap harinya

Dan selamilah ilmu di dalam lautan pencapaian

Belajarlah fikih, sebab fikih adalah paling utamanya sesuatu

Ia bisa menyampaikan seseorang menuju takwa dan membuat bijaksana

Ilmulah yang menunjukkan kepada jalan-jalan petunjuk

Ilmu itu akan memelihara dirimu dan menyelamatkanmu dari kesulitan

Sesungguhnya satu orang yang ahli fikih dan memelihara diri

Lebih berat bagi syaitan untuk digoda jika dbandingkan seribu orang biasa

Demikian pula wajib bagi seseorang mempelajari ilmu yang berkaitan dengan akhlah seperti kedermawanan, memelihara dari sifat kikir, takut, keberania, takabbur, rendah hati, kasih sayang, berlebih-lebihan dalam sesuatu, boros, dan lain sebagainya. Karena sombong, kikir, takut, berlebih-lebihan adalah sesuatu yang dilarang. Tidak mungkin seseorang menjaga dari semua itu kecuali dia tahu akan semua itu dan tahu akan kebalikan dari semua sifat tersebut. Maka wajib bagi tiap-tiap orang untuk mempelajari ilmu yang berkaitan dengan sifat-sifat yang dilarang itu. Dan imam nasiruddin telah mengarang sebuah kitab tentang budi pekerti dan kitab itu adalah kitab akhlak terbaik yang pernah saya temui. Maka wajib bagi setiap orang muslim menghafal kitab itu.

Adapun menjaga sesuatu yang terjadi pada saat-saat tertentu, maka cukuplah kewajiban itu bagi sebagian orang saja. Jika sebagian orang itu telah melaksanakan di suatu negri maka gugur kewajiban yang lain. Jika semua orang di suatu negeri itu tidak satupun yang melakukan kewajiban yang sifatnya temporer itu, maka semua orang di negeri itu berdosa. Maka wajib bagi pemimpin daerah itu untuk memerintahkan sebagian masyarakatnya untuk melakukan kewajiban temporer itu. Dan pemimpin itu berhak untuk memaksanya.

Dalam hal ini dikatakan bahwa setiap ilmu yang berkaitan dengan kejadian sehari-hari yang penting bagi setiap orang dimana kepentingan itu seperti pentingnya tiap orang terhadap makanan maka wajib bagi setiap orang itu mempelajarinya. Sedangkan ilmu yang sifatnya temporer (sewaktu-waktu) seperti halnya obat yang dibutuhkan dalam kondisi tertentu, maka kewajiban mempelajarinya hanya bagi orang tertentu saja. Sedangkan belajar ilmu sihir untuk pengobatan maka hukumnya haram karena ilmu sihir itu tidak bermamfaat sama sekali dan lari dari takdir dan kekuasaan Allah. Padahal lari dari takdir dan kekuasaan Allah itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.

Maka wajib bagi seseorang muslim untuk menyibukkan diri di semua waktunya dengan dikir kepada Allah dan berdoa, tadarru’ membaca al-qur’an, dan sedekah yang bisa menolak bala’. Dan mohonlah selalu kepada Allah agar kita mendapatkan ampunan dan kesehatan baik di dunia maupun di akhirat. Agar Allah menolong kita dari mara bahaya dan kerusakan. Karena termasuk rizkinya doa adalah tidak tertutupnya penerimaan dari Allah. Jika musibah itupun terjadi, kita dimudahkan oleh Allah dan diberi rizki kesabaran sebab barakah doa itu. Ya Allah, hanya kepada engkau kami berserah diri.

Jika seseorang belajar ilmu nujum sekedar hanya ingin mengetahui tentang arah kiblat dan waktu-waktu shalat, maka hal itu dibolehkan. Adapun belajar ilmu kedokteran karena ilmu kedokteran itu menjadi sebab dari beberapa sebab. Maka boleh mempelajarinya sebagaimana ilmu sebab yang lain. Nabi sendiri juga pernah berobat. Dan syafii’ meriwayatkan bahwa ilmu itu ada dua. Pertama adalah ilmu fikih untuk agama dan kedua adalah ilmu kedokteran untuk kepentingan tubuh. Selain dua ilmu itu hanya pelengkap saja.

Adapun tafsirnya ilmu akan menjadi jelas sifatnya bagi orang yang mempelajarinya. Fikih misalnya. Fikih itu tafsirnya adalah mengetahui sedalam-dalamnya ilmu. Abu hanifah berkata fikih itu pengetahuan tentang sesuatu yang bermamfaat dan berbahaya bagi diri kita sendiri. Dan selanjutnya ia berkata bahwa tidak ada ilmu kecuali untuk diamalkan. Pengamalan itu adalah meninggalkan sesuatu yang bersifat sementara untuk meraih kahidupan akhirat. Maka wajib seseorang untuk tidak melupakan dirinya, apa yang bermamfaat bagi dirinya dan apa yang berbahaya bagi dirinya baik pada awalnya maupun pada akhirnya. Dan wajib bagi manusia untuk selalu meraih sesuatu yang bermamfaat bagi dirinya dan menjauhi sesuatu yang membahayakan dirinya. Agar akal dan ilmunya tidak menjadi hujjah yang bisa menjerumuskannya. Sehingga siksaan akan bertambah baginya. Kami berlindung kepada Allah dari kemarahannya dan siksanya. Ada beberapa ayat al-qur’an dan hadis nabi yang menjeleskan beberapa kemulyaan dan keutamaan ilmu. Namun kami tidak mengutarakannya agar kitab ini tidak terlalu panjang pembahasannya.

Bab Kedua Tentang Niat Di Waktu Belajar

Wajib bagi seseorang untuk berniat di waktu mencari ilmu. Niat itu dasar dalam semua hal. Hal ini didasarkan kepada sabda nabi bahwa semua perbuatan itu tergantung niat. Hadis ini adalah hadis yang shahih. Dan ada hadis juga dari Rasul yang mengatakan bahwa banyak perbuatan yang tampaknya seperti perbuatan dunia, menjadi perbuatan akhirat karena bagusnya niat. Dan banyak pula perbuatan yang berupa perbuatan akhirat, namun menjadi perbuatan dunia karena buruknya niat.

Seharusnya seseorang yang mencari ilmu itu berniat untuk mencari ridha Allah, jalan menuju akhirat, dan untuk menghilangkan kebodohan dirinya, dan kebodohan orang-orang yang bodoh. Dan seseorang hendaklah berniat juga untuk menegekkan agama dan mengekalkan islam. Sebab kekalnya agama islam itu dengan sebab ilmu. Zuhud dan takwa tidak sah jika disertai dengan ketidaktahuan dengan zuhud dan takwa itu. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh syaih Burhanuddin dalam sebauh syi’irnya.

فساد كبير عالم متهتك * واكبر منه جاهل متنسك

هما فتنة فى العالمين عظيمة * لمن بهما فى دينه يتمسك

Terjadilah kerusakan besar karena ada orang alim yang menyalahi syara’

Dan lebih celaka lagi jika ada orang bodoh yang melakukan ibadah

Kedua menjadi fitnah yang besar di dunia ini

Bagi orang yang berpegang kepada kedua orang di atas dalam soal agama.

Hendaklah seseroang yang mencari ilmu juga berniat untuk mensyukuri nikmat akal dan sehatnya badan. Dan janganlah seseorang berniat untuk menundukkan manusia, mengumpulkan dunia, mencari kemulyaan di sisi penguasa dan lain sebagainya. Dalam hal ini, hasan rahimamahumullah berkata:

Seandainya semua manusia ini adalah budakku niscaya saya akan memerdekakan mereka dan aku membebaskan diri dari menguasai mereka. Dan barang siapa yang mendapatkan kelezatan ilmu dan mengamalkannya, maka dia tidak akan memperhatikan dan mengharapkan sesuatu dari manusia.

Ustad qawamuddin hammad bin ibrahim juga telah menuliskan sebuah syi’ir yang ditujukan kepada imam abu hanifah :

من طلب العلم للمعاد * فاز بفضل من الرشاد

فيا لخسران طالبيه * لنيل فضل من العباد

Barang siapa yang mencari ilmu untuk akhirat

Maka dia akan beruntung dengan mendapatkan keutamaan petunjuk

Maka alangkah ruginya bagi orang yang menuntut ilmu

Untuk mendapatkan kemulyaan di sisi manusia

Ya Allah lindungilah kami dari mencari ilmu bukan karena akhirat. Jika seseorang mencari kemulyaan dunia itu dengan niat untuk menegakkan keadilan dan mencegah kemungkaran, menegakkan kebenaran dan menegakkan agama, bukan bertujuan untuk kepentingan dirinya sendiri dan hawa nafsunya, maka hal itu dibolehkan. Kebolehan itu terbatas pada kadar dimana dengan kadar itu seseorang bisa menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Seyogyanya, penuntut ilmu itu selalu berfikir tentang semua itu. Ia harus berfikir bahwa dalam mencari ilmu, dia mencurahkan tenaga dan fikiran, maka janganlah memalingkan niatnya hanya untuk kepentingan dunia yang hina, sedikit dan tidak lama lagi akan rusak. Ada sebuah syiir yang menerangkan tentang kehinaan dunia ini:

هي الدنيا اقل من القليل * وعاشقها أدل من الدليل

تصم بسحرها قوما وتعمى * فهم متحيرون بلا دليل

Dunia itu adalah sesuatu yang sangat sedikit dari yang sedikit

Orang yang merindukannya adalah orang paling hina dari yang hina

Dunia membutakan semua orang sebab sihirnya dengan kebutaan

Mereka terkagum-kagum dengan dunia tanpa adanya petunjuk

Seharusnya pencari ilmu itu tidak menghinakan diri dengan keserakahan bukan pada tempatnya. Dan ia harus menjaga diri dari sesuatu yang menyebabkan kehinaan ilmu dan kehinaan orang yang mempunyai ilmu. Pelajar juga harus selalu rendah hati. Rendah hati berada di antara sikap sombong dan hina. Pelajar juga harus mempunyai sifat kasih sayang. Hal itu semua bisa dijumpai di dalam kitan akhlak. Dalam hal ini, syeh ruknul islam yang dikenal dengan orang yang berakhlak tinggi menuliskan sebuah syi’ir :

ان التواضع من خصال المتقي * وبه التقي الى المعالى يرتقي

ومن العجائب عجب من هو جاهل * في حاله أهو السعيد أم الشقي

أم كيف يختم عمره أو روحه * يوم النوى متسفل أو مرتقي

Sesungguhnya tawaddu adalah pencapaian bagi orang bertakwa

Dengannya, ketakwaan akan naik ke puncak yang tinggi

Termasuk keajaiban bagi orang yang tidak tahu tentang tawaddu itu

Di dalam kondisinya, dia tidak akan mengetahu apakah akan selamat/ celaka

Atau bagaimana orang itu akan mengakhiri hidupnya dan ruhnya

Di hari bangkit, apakah dia akan menjadi orang bodoh atau orang takwa

Kesombongan itu merupakan sifat yang khusus bagi Allah, maka kita sebagai hambanya hendaklah menjauhinya. Imam abu hanifah berkata kepada para shabat: Besarkanlah sorbanmu dan luaskanlah selendangmu. Perkataan ini dimaksudkan sebagai sebuah peringatan agar kita tidak menganggap remeh terhadap ilmu dan ahli ilmu.

Seyogyanya bagi pelajar itu mencari dan mendapatkan sebuah kitab wasiat yang telah ditulis oleh Imam abu Hanifah. Kitab itu ditujukan kepada Yusuf bin Holid assumti, ketika yusuf itu pulang ke keluarganya. Barang siapa yang mencari kitab tersebut, dia akan mendapatkannya. Dan Ali bin abu bakar memerintahkan kepada saya untuk menuliskan kitab itu ketika saya (pengarang) ke negriku dan akupun menuliskannya. Sehingga wajib bagi para santri dan mufti (pemberi fatwa) untuk memegang kitab tersebut.

Bab Ketiga Adalah Tentang Memilih Ilmu, Ustad Dan Teman Dan Bagaimana Istiqamah Dengan Semua Itu.

Seyogyanya bagi penuntut ilmu memilih ilmu yang paling baik untuk dirinya. Dan ia perlu juga memilih ilmu yang diperlukan dalam urusan agamanya di waktu itu juga. Kemudian memilih ilmu untuk urusan dunia di waktu yang akan datang. Dan hendaknya, ia mendahulukan ilmu tauhid dan ilmu tentang cara mengetahui Allah dengan dalil yang pasti. Sebab iman orang yang ikut-ikutan, walaupun benar menurut kita, akan tetapi orang itu tetap berdosa karena meninggalkan dalil. Hendaklah ia memilih ilmu yang kuno bukan ilmu yang baru. Para guru mengatakan: tetapkanlah hatimu pada ilmu yang kuno dan berhati-hatilah kepada ilmu yang baru. Dan hati-hatilah terhadap perdebatan ilmu kuno ini setelah meninggalnya para pembesar ulama. Karena perdebatan itu menjauhkan santri dari fikih, dan menyia-nyiakan umur serta menimbulkan permusuhan. Perdebatan itu menjadi tanda akan datangnya hari kiamat, hilangnya ilmu dan fikih. Demikian dijelaskan dalam sebuah hadis.

Adapun cara memilih ustad hendaklah memilih ustad yang lebih alim, lebih wara’ dan lebih tua usianya. Sebagaimana Abu Hanifah waktu masih dalam belajarnya memilih ustad hammad bin sulaiman seteleah abu hanifah menimbang-nimbang dan berfikir. Abu Hanifah berkata bahwa aku menjumpainya sebagai seorang guru yang tekun, bijaksana, dan sangat sabar. Kemudian saya berketetapan hati dan ingin menimba ilmu dari beliau. Imam Abu Hanifah juga berkata bahwa saya mendengar perkataan orang bijak dari samarkandi yang mengatakan bahwa ada seseorang dari pencari ilmu bermusyawarah denganku untuk mencari ilmu dan dia bermaksud untuk pergi ke negri Bukhara untuk mencari ilmu.

Demikianlah, hendaknya seseorang selalu bermusyawarah di dalam semua persoalan. Sebab Allah telah memerintahkan rasulullah untuk selalu bermusyawarah dalam semua urusan. Padahal tidak ada orang yang lebih pandai dari rasul. Berdasarkan hal itu, kita diperintahkan untuk selalu bermusyawarah. Rasulullah sendiri memusyarahkan semua urusannya dengan sahabat-sahabatnya sampai ia bermusyawarah dalam urusan rumah tangga. Ali berkata: seseorang tidak akan celaka setelah melakukan musyawarah. Dikatakan bahwa ada tiga macam laki-laki. Pertama disebut dengan laki-laki penuh. Kedua separo laki-laki. Ketiga adalah bukan laki-laki. Adapun laki-laki penuh adalah orang yang punya pendapat yang benar dan dia mau bermusyawarah. Separo laki-laki adalah orang yang mempunyai pendapat yang benar tapi tidak mau bermusyawarah atau mau bermusyawarah tapi tidak punya pendapat. Bukan laki-laki adalah seseorang yang tidak punya pendapat dan tidak mau bermusyawarah. Ja’far shadiq berkata kepada sufyan tsauri rahimahumullah: musyawarahkanlah urusanmu dengan orang yang takut kepada Allah. Adapun mencari ilmu adalah paling tingginya perkara. Maka bermusyawarah dalam ilmu itu lebih penting dan lebih wajib. Hakim berkata jika engkau pergi ke negri Bukhara, janganlah kamu mensegerakan perdebatan kepada para imam. Berdiamlah kamu barang dua bulan sampai kamu bisa berfikir dan memilih seorang guru. Karena jika kamu pergi ke seorang yang alim dan langsung memulai mengaji dengannya lalu pengajarannya tidak memukaumu lalu kamu meninggalkannya dan kemudian kamu pergi kepada orang alim yang lain. Maka kamu tidak akan mendapatkan keberkahan dalam belajar. Maka berfikirlah kamu selama dua bulan untuk memilih seorang guru dan bermusyawarahlah sehingga kamu tidak berfikir untuk meninggalkan dan berpaling darinya. Dan kamu bisa terus menerus belajar kepada guru tersebut. Dan kamu bisa mendapatkan barakah dari guru itu. Ilmumu bisa bermamfaat dengan kemamfaatan yang besar.

Ketahuilah bahwa sabar dan kontinyu merupakan pondasi yang kokoh dalam semua perkara namun hal itu memang berat bagi semua orang sebagaimana dikatakan dalam sebuah si’ir:

لكل الى شأو العلى حركات * ولكن عزيز فى الرجال ثبات

Untuk mencapai tingkat yang tinggi perlu kesabaran yang cukup

Namun hal itu sangat berat dan jarang orang yang sabar

Ada orang yang mengatakan bahwa keberanian adalah sabar sejenak. Maka seyogyanya bagi penuntut ilmu untuk selalu kontinyu dan sabar terhadap seorang guru dan kepada suatu kitab tertentu. Sehingga ia tidak meninggalkan guru itu dalam keadaan penuh kekurangan dan tidak menyibukkan diri dengan pelajaran yang lain sebelum pelajaran yang pertama selesai. Dan agar seseorang itu tidak juga berpindah-pindah tempat ketika tidak ada darurat yang mengharuskan untuk pindah. Karena semua itu membeda-bedakan perkara, menyibukkan hati dan menyia-nyiakan waktu serta menyakiti sang guru. Seharusnya ia bersabar terhadap kehendak diri dan nafsunya. Ada orang yang berkata dalam sebuah si’ir:

ان الهوى لهو الهوان بعينه * وصريع كل هوان صريع هوان

Sesungguhnya keinginan atau nafsu adalah nafsu itu sendiri.

Menangnya setiap keinginan merupakan kemenangan dari hawa nafsu

Murid harus bersabar juga terhadap ujian dan cobaan. Ada perkataan yang mengatakan Bahwa خزائن المنى على قناطير المحن Besarnya sebuah pencapaian tergantung kepada ujian yang ditimpakan. Dan saya (pengarang) pernah dibacakan sebuah si’ir dan si’ir itu adalah milik sayyidina Ali bin Abi Thalib karramAllahu wajhah:

ألا لاتنال العلم الا بستة * سأنبيك عن مجموعها ببيان

دكاء وحرص واصطبار وبلغة * وارشاد أستاد وطول زمان

Ingatlah bahwa kamu tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam hal

Saya akan memberitahukanmu dari kesemuanya dengan sebuah penjelasan

Cakap, …….sabar, dan cukup bekal

Petunjuk ustad dan lamanya waktu dalam proses belajar

Adapun memilih teman seharusnya memilih orang yang sungguh-sungguh dalam belajar dan wara’ serta mempunyai sifat yang lurus, memahami terhadap orang lain, tidak malas, tidak suka memanjangkan urusan, tidak banyak bicara, bukan perusak, dan bukan ahli fitnah. Dikatakan bahwa jika ingin tahu tentang seseorang janganlah banyak bertanya tentang orang itu tapi lihatlah siapa temannya. Karena sesungguhnya seorang yang berkawan mengkuti tingkah laku kawannya. Jika temanmu itu bukan orang baik maka segera jauhilah dia. Jika temanmu adalah orang yang baik maka bersahabatlah dengannya niscaya engkau akan mendapatkan petunjuk. Ada si’ir yang pernah saya dengar demikian:

لاتصحب الكسلان في حالاته * كم صالح بفساد اخر يفسد

عدوى البليد الى الجليد سريعة * كاالجمر يوضع في الرماد فبخمد

Janganlah bersahabat dengan orang yang malas dalam segala keadaannya

Banyak orang yang shalih menjadi rusak dengan sebab rusaknya teman

Permusuhan orang bodoh kepada orang baik sangatlah cepat

Seperti halnya .............

Nabi muhammad bersabda bahwa setiap orangdilahirkan dalam keadaan kesucian islam, namun kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi yahudi, menjadi nasrani, dan menjadi orang majusi. Demikian kata nabi dalam sebuah hadis. Dikatakan dalam sebuah hikmah dalam bahasa parsi

يا ربدبد تربود ازماربد * بحق دات باك الله الصمد

ياربد اردتر اسوى جحيم * يارنيكوكيرنايابي نعيم

Orang jelek lebih jelek dari ular yang jelek dan sebagian besar membahayakan

Demi Allah yang maha benar dan maha suci

Teman yang tidak baik akan membawamu ke neraka jahim

Berkawanlah dengan orang shalih, sebab dia menjadi perantara ke sorga na’im

Dikatakan juga dalam sebuah si’ir yang searti dengan hikmah di atas:

ان كنت تبغي العلم من اهله * او شاهدا يخبر عن غائب

فاعتبر الارض باسمائها * واعتبر ا لصاحب بالصاحب

Jika engkau meinginginkan ilmu dari ahlinya

Atau ingin menjadi saksi yang bisa mendapatkan berita ghaib

Maka ambillah pelajaran di bumi ini dengan segala macam warnanya

Dan pandanglah sahabat dengan sahabatnya

Bab Ke Empat Ini Adalah Bab Tentang Mengagungkan Ilmu Dan Ahli Ilmu

Ketahuilah olehmu wahai para santri, bahwa sesungguhnya orang yang menuntut ilmu itu tidak akan pernah mendapatkan ilmu dan tidak akan bisa mengambil mamfaat dari ilmu itu kecuali dengan mengagungkan ilmu dan ahli ilmu, mengagungkan ustad dan memulyakannya. Dikatakan bahwa seseorang yang telah sampai kepada yang dituju tidak akan pernah sampai kecuali dengan menghormat. Dan orang yang gagal tidak akan gagal dalam pencariannya kecuali dengan meninggalkan hormat dan mengagungkan. Dikatakan juga bahwa menghormat itu lebih baik dari pada taat. Ingatlah wahai manusia sesungguhnya manusia tidak kafir sebab ia melakukan maksiat. Ia menjadi kafir sebab meninggalkan hormat. Adapun mengagungkan pengajar adalah termasuk mengagungkan ilmu. Imam Ali berkata bahwa saya adalah hambanya orang yang mengajariku satu huruf. Jika ia menghendaki, ia bisa menjualku dan ia juga bisa memerdekakanku atau ia menjadikanku sebagai budaknya. Nabi juga pernah berkata bahwa barang siapa yang mengajari seseorang kitab Allah, maka orang itu menjadi tuannya. Dan ada siir yang telah diucapkan mengenai hal ini:

رايت احق الحق حق المعلم * واوجبه حفظا على كل مسلم

لقد حق أن يهدى اليه كرامة * لتعليم حرف واحد ألف درهم

Saya melihat bahwa orang yang paling berhak terhadap seseorang adalah guru

Dan setiap orang muslim wajib menjaga sang guru itu

Dan petunjuknya selalu benar dan kepadanya semua kemulyaan

Karena untuk kalau dihargai, mengajar satu huruf harganya seribuh dirham

Sesungguhnya orang yang mengajarimu satu huruf yang berguna dan dibutuhkan dalam agamamu, maka dia adalah ayahmu dalam agama. Ustad kami yang bernama syeh imam sadiduddin as-syiraji berkata: guru-guru kami pernah berkata barang siapa yang menginginkan anaknya alim maka seharusnya ia memelihara para ahli fikih, memulyakan mereka dan mengungkan mereka serta memberikan mereka sesuatu. Jika bukan anaknya yang alim, maka cucunya nanti yang akan alim.

Termasuk memulyakan guru adalah tidak berjalan di depannya dan tidak duduk di tempatnya dan tidak memulai pembicaraan dengannya kecuali dengan izinnya. Janganlah murid itu memperbanyak pembicaraan di sisinya. Janganlah bertanya sesuatu yang membosankannya. Dan murid selalu menjaga waktu ketika guru akan mengajar. Janganlah mengetok pintunya. Namun murid harus bersabar hingga sang guru keluar. Intinya murid harus selalu mencari ridha sang guru dan menjauhi sesuatu yang membuatnya marah. Murid harus melakukan perintah guru selama perintah itu bukan perintah untuk maksiat kepada Allah. Karena seseorang tidak boleh taat kepada siapapun untuk berbuat kemaksiatan kepada Tuhannya. Termasuk mengagungkan guru adalah mengagungkan putranya dan orang yang berkaitan (dekat) dengan sang guru. Syeh burhanuddin pernah bercerita seseorang dari pembesar ulama bukhara pernah ditemuinya dalam keadaan kadang-kadang berdiri di tengah-tengah mengajarnya dan kadang-kadang duduk. Pada santri yang diajarinya kemudian bertanya kenapa sang guru itu kadang berdiri di tengah-tengah mengajar para santri. Dia menjawab bahwa putra gurunya sedang bermain dengan anak-anak kecil di jalan dan kadang muncul di pintu masjid. Jika aku sedang melihatnya aku kemudia berdiri untuk memulyakan guruku imam fakhruddin al-arsabandi. Imam fahruddin merupakan pemimpin umat di marwan. Penguasa juga sangat menghormati beliau. Dan imam fahruddin itupun pernah berkata bahwa beliau mencapai posisi terhormat seperti itu disebabkan oleh penghormatan beliau terhadap gurunya yang bernama Abu Yazid ad-dhabusi. Saya, kata imam fahruddin, melayani dan memasakkan nasi Abu Yazid namun saya tidak pernah memakannya.

Pernah suatu ketika imam halwani pergi ke negri Bukhara dan singgah di suatu desa beberapa waktu karena ada hal yang mengharuskan beliau tinggal untuk sementara waktu. Kemudian beberapa santrinya mengunjunginya. Ada seorang santri yang bernama syeh imam az-zarnuji tidak mengunjunginya. Imam halwani kemudian berkata kepada imam az-zarnuji ketika bertemu di waktu yang lain: kenapa engkau tidak menjengukku? Imam Az-Zarnuji menjawab saya sibuk mengasuh anak perempuanku yang masih kecil sehingga saya tidak bisa mengunjungimu. Imam halwani berkata: kamu diberi rizki umur namun kamu tidak diberi rizki belajar. Demikian kejadian selanjutnya. Imam az-zarnuji tidak pernah disibukkan dengan belajar. Maka barang siapa yang menyakiti gurunya, maka barakah ilmu akan ditutup dari hadapan orang tersebut. Dan ia tidak akan pernah mengambil mamfaat dari ilmu itu kecuali sedikit.

Sesungguhnya guru dan dokter keduanya tidak akan memberikan nasihat jika keduanya tidak dimulyakan. Maka bersabarlah dengan penyakitmu jika kamu berpaling dan tidak memulyakan doktermu. Dan bersabarlah dengan kebodohanmu jika kamu berpaling dari gurumu. Diceritakan bahwa khalifah harun ar-rasyid mengirimkan putranya kepada ustad asmui agar beliau mau mengajari ilmu dan adab (sopan santun dalam mencari ilmu) kepada putra harun ar-Rasyid. Suatu hari khalifah melihat ustad asmui mengambil wudlu dan membasuh kakinya sedangkan putra khalifah menuangkan air di kaki ustad asmui. Melihat kejadian ini, khalifah menegur sang ustad dan berkata: saya mengirimkan anak saya untuk diajari tata krama oleh ustad, kenapa ustad tidak menyuruh anak saya untuk menuangkan air dengan tangan yang satu dan membasuh kaki anda dengan tangan yang lainnya. Hal ini membuktikan bahwa memulyakan seorang guru merupakan suatu kewajiban.

Adapun sesuatu yang termasuk dalam hal mengagungkan ilmu adalah mengagungkan kitab. Seyogyanya seorang santri tidak mengambil kitabnya kecuali dalam keadaan suci. Dihikayatkan dari syeh imam halwani bahwa beliau pernah berkata: hanyasanya saya mendapatkan ilmu ini dengan mengagungkan dan saya tidak mengambil kertas kecuali dalam keadaan suci. Sesungguhnya syeh imam as-sarhosi sakit perut ketika sedang mengulang-ngulang pelajarannya. Beliau kemudian mengulang-ngulang wudlu sampai tujuh belas kali pada malam itu juga. Hal ini beliau lakukan karena ia tidak ingin mengulang-ngulang pelajarannya kecuali dalam keadaan suci. Hal ini menjelaskan sebuah pengertian bahwa sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya. Wudlu juga cahaya. Maka cahaya ilmu akan bertambah dengan sebab cahaya wudlu.

Adapun perbuatan mengagungkan kitab adalah tidak menjulurkan kakinya kepada kitab. Seseorang harus meletakkan kitab tafsir di atas kitab-kitab yang lain. Dan janganlah meletakkan sesuatu selain kitab di atas kitab. Ustad burhanuddin pernah bercerita dan cerita ini didapatkan dari guru-gurunya bahwa ada seorang ulama yang ahli fikih meletakkan tinta di atas kitab. Maka seorang guru yang menemuinya berkata dalam bahasa persi: برنيابي kamu tidak akan mendapatkan mamfaat dari ilmumu. Sedangkan menurut syeh fahrul islam yang dikenal dengan nama qadihan mengatakan bahwa jika hal itu tidak dimaksudkan sebagai sebuah penghinaan dan menyepelekan maka hal itu tidak apa-apa. Namun yang lebih utama adalah menjaga dari hal itu.

Termasuk mengagungkan kitab adalah membaguskan tulisan dan tidak membuat tulisan yang kabur dan tidak jelas serta tidak memperpanjang pembahasan yang membuat kabur suatu pengertian. Kecuali hal itu dilakukan dalam kondisi darurat. Imam Abu Hanifah pernah melihat seorang penulis kitab yang menulis dengan tulisan tidak jelas. Abu hanifah kemudian menegurnya: janganlah kamu kaburkan tulisanmu. Jika kamu hidup terus kamu akan menyesal. Jika kamu mati, maka orang yang membaca tulisanmu akan mencacinya. Jika kamu bertambah tua dan penglihatanmu menjadi lemah, maka kamu akan menyesali perbuatanmu itu. Diceritakan oleh syeh imam muhammad majiddin as-shorhaki bahwa ia berkata: tulisan yang kami kaburkan dan kami kecilkan, membuat kami menyesalinya. Tulisan yang tidak kami bandingkan dengan kitab lain, juga membuat kami menyesal. Karena menelaah satu kitab kadang sulit memahaminya perlu perbandingan dengan kitab lain.

Seharusnya bentuk kitab itu persegi empat. Karena bentuk itu adalah bentuk yang dipilih abu hanifah. Bentuk persegi empat itu lebih mudah dibawa, diletakkan dan dipelajari kembali. Dan seharusnya tidak ada warna merah dalam tulisan. Karena warna merah itu adalah perbuatan ahli filsafat bukan perbuatan ulama salaf. Ada beberapa guru-guru kita yang tidak menyukai warna merah.

Termasuk mengagungkan ilmu adalah mengagungkan teman sejawat dan mengagungkan orang-orang yang juga mempelajari ilmu yang sedang dipelajari. Bercinta dan berkasih-sayang dengan orang lain merupakan sesuatu yang dilarang kecuali dalam menuntut ilmu. Seharusnyalah bagi pelajar untuk berkasih sayang dengan pelajar yang lain dan dengan gurunya. Agar santri itu bisa mengambil faedah dari mereka.

Seyogyanya santri itu mendengarkan ilmu dan hikmah dengan penuh ketakdiman dan penghormatan. Jika ia mendengar satu masalah dan satu kalimat sebanyak seribu kali, maka barang siapa yang tidak mendengarkannya setelah keseribu kalinya seperti mendengarkannya pada waktu pertama kalinya, maka ia bukan termasuk ahli ilmu.

Semestinya seorang santri tidak memilih sendiri ilmu yang akan dipelajarinya namun menyerahkan pilihan itu kepada sang guru. Karena sang guru telah mendalami persoalan dalam memilih ilmu yang cocok bagi sang murid. Dan guru juga telah tahu apa yang layak bagi murid dan ilmu apa yang sesuai dengan karakter si murid. Pernah suatu ketika syeh imamul islam burhanuddin berkata bahwa santri dulu menyerahkan urusan-urusan belajar mereka kepada guru-guru mereka. Dan santri-santri tersebut mencapai sesuatu yang dimaksudkan dan diinginkan oleh mereka. Sedangkan saat ini, para santri lebih memilih sendiri urusan belajar mereka dan mereka tidak mendapatkan sesuatu yang dituju baik itu dari ilmu maupun fiqih. Pernah diceritakan bahwa muhammad bin ismail al-bukhari rahimahullah memulai belajar sholat kepada muhammad bin hasan. Kemudian muhammad bin hasan menyuruhnya untuk belajar ilmu hadis. Hal ini dilakukan oleh hasan setelah melihat muhammad bin ismail lebih cocok untuk mempelajari ilmu hadis dan ilmu hadis sesuai dengan karakternya. Dan muhammad bin ismail menuruti kata hasan dan ia mempelajari ilmu hadis. Ternyata dia menjadi ahli yang terkemuka dalam ilmu hadis.

Seyogyanya santri tidak duduk berdekatan dengan sang guru ketika mengaji kalau tidak ada darurat. Antara guru dan murid harus ada jarak sekitar satu tombak. Hal ini menunjukkan kepada lebih mengagungkan sang guru.

Sang murid juga harus menjaga dirinya dari akhlak tercela. Karena akhlak tercela itu merupakan gambaran anjing secara maknawinya. Rasulullah bersabda bahwa malaikat tidak akan memasuki sebuah rumah yang ada gambar dan anjingnya. Padahal seorang manusia mempelajari suatu ilmu dengan perantaraan malaikat. Akhlak-akhlak tercela itu bisa dijumpai dalam kitab akhlak. Sebab kitab kami ini tidak memberikan penjelasan tentang akhlak yang tercela. Seorang murid harus menjaga akhlak khususnya dari sifat sombong. Orang takabbur tidak akan mendapatkan ilmu. Dikatakan:

العلم حرب للمتعالى * كالسيل حرب للمكان العالى

بجد لا بجد كل مجد * فهل جد بلا جد فمجد

فكم عبد يقوم مقام حر * فكم حر يقوم مقام عبد

Ilmu itu merupakan musug bagi orang sombong

Sebagaimana air menjadi musuh bagi tempat tinggi

Dengan kesungguhan bukan dengan kekuasaan, kemulyaan diraih

Tidak ada kemulyaan tanpa dibarengi dengan perjuangan & usaha

Banyak hamba menempati posisi orang merdeka

Banyak pula orang merdeka yang menduduki tempat budak

Bab Kelima Adalah Bab Tentang Sungguh-sungguh, Kontinyu Dan Cita-Cita Tinggi

Santri wajib untuk sungguh-sungguh, terus-menerus dan istiqamah dalam menuntut ilmu. Hal ini telah ditunjukkan oleh Allah dalam al-qur’an dengan firmannya:

واللدين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا

Sungguh, orang-orang yang berjuang di jalan kami, kami akan menunjukkan jalan kami

Dikatakan bahwa barang siapa mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh, ia akan mendapatkan apa yang dicarinya. Barang siapa mengetok pintu dengan bertubi-tubi, pasti ia akan bisa masuk juga. Dikatakan bahwa kadar kesusahan seseorang dalam berusaha menentukan pencapaian yang diinginkan. Dikatakan juga bahwa untuk mendapatkan ilmu dan fikih dibutuhkan kesungguhan tiga komponen: pertama murid, kedua guru dan ketiga adalah wali santri jika wali santri itu masih hidup. Syeh imam sadiduddin pernah mengatakan sebuah siir milik imam safii kepada kita:

الجد يدنى كل أمر شاسع * والجد يفتح كل باب مغلك

وأحق خلق الله بالهم امرؤ * دو همة يبلى بعيش ضيق

ومن الدليل على القضاء وحكمه * بؤس اللبيب وطيب عيش الاحمق

لكن من رزق الحجا حرم الغنى * ضدان يفترقان أى تفرق

Kesungguhan itu dapat mendekatkan sesuatu yang jauh dan luas

Kesungguhan juga bisa membuka setiap pintu yang terkunci

Hak Allah atas seorang hamba yang dirinya diliputi cita-cita

Orang yang punya cita-cita tinggi seringkali diuji dengan kesempitan hidup

Hal itu termasuk bukti atas qada’ dan Hukum Allah

Sempitnya orang pandai dan baiknya penghidupan orang bodoh

Namun barang siapa yang diberi rizki ilmu akan kekayaan akan tertutup

Ilmu dan harta merupakan dua hal yang tidak pernah menyatu

Dikatakan juga dalam siir:

تمنيت أن تمسي فقيها مناظرا * بغير عناء والجنون فنون

وليس اكتساب المال دون مشقة * تحملها فالعلم كيف يكون

Aku ingin menjadi orang ahli fikih dan mampu berfikir lebih jauh tentangnya

Namun tanpa ada kesungguhan, sungguh kegilaan itu bermacam-macam

Tidak pernah ada orang yang mencari harta dunia itu tanpa kesusahan

Kesusahan yang dipikulnya, lalu bagaimana halnya dengan ilmu

Abu tayyib berkata bahwa aku belum pernah melihat kejelekan manusia seperti halnya orang yang mampu untuk menyempurnakan sesuatu namun dia menguranginya.

Santri tidak boleh tidak juga wajib untuk selalu bangun di malam hari. Hal ini sebagaimana dikatakan dalam sebuah siir:

بقدر الكد تكتسب المعالى * فمن طلب العلى سهر الليالي

تروم العز ثم تنام ليلا * يغوص البحر من طلب اللالى

علو الكعب بالهمم العوالى * وعز المرء فى سهر الليالى

تركت النوم ربي فى الليلي * لأجل رضاك يامولى الموالى

ومن رام العلى من غير كد * اضاع العمر فى طلب المحالي

فوفقني الى تحصيل علم * وبلغني الى اقصى المعالى

اتخد الليل جملا * تدرك به املا

Kemulyaan itu akan dicapai menurut kadar kesulitan yang dialami

Barang siapa mencari kemulyaan, hendaknya tidak tidur di waktu malam

Engkau menghendaki kemulyaan, namun dirimu terlelap dalam tidurmu

Orang yang menghendaki mutiara harus menyelam dulu di dasar lautan

Tingginya kemulyaan hanya dicapai dengan cita-cita yang tinggi

Dan kemulyaan seseorang dicapai dengan berjaga di malam hari

Ya Allah, ingin sekali diriku meninggalkan tidur di malam hari

Untuk mendapatkan ridhamu wahai dzat yang maha tinggi

Barang siapa ingin mendapatkan kedudukan tinggi tanpa usaha yang kuat

Orang itu hanya membuang-buang umur dalam mencari yang mustahil

Ya Allah, berilah kami petunjuk untuk mendapatkan ilmu

Dan sampaikanlah kami kepada tempat yang paling tinggi

Jadikanlah malam sebagai hiasan bagimu

Maka engkau akan mendapatkan sesuatu yang dicita-citakan

Pengarang kitab ini juga mengatakan bahwa ada siir yang sesuai dengan siir di atas, yakni:

من شاء ان يحتوي اماله جملا * فليتخد ليله في دركها جملا

اقلل طعامك كي تحظى به سهرا * ان شئت ياصاحبي ان تبلغ الكملا

Barang siapa menginginkan cita-citanya tercapai

Jadikanlah malam sebagai hiasan

Sedikitkanlah makan agar dirimu bisa tidak tidur di malam hari

Jika kamu, wahai sahabat semua, menginginkan kesempurnaan

Dikatakan bahwa barang siapa tidak tidur di malam hari, maka hatinya akan berbagia di pagi harinya.

Santri juga wajib untuk selalu kontinyu dalam belajar dan mengulang-ngulang pelajaran di awal malam dan di akhir malam. Karena sesungguhnya waktu antara waktu isya’ dan waktu subuh merupakan waktu yang penuh barakah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TEXT